Tuesday, January 28, 2014

Kisah Ayah



Sebuah surga kecil yang terletak di sebelah selatan perairan Laut Sawu, menjadi tempat bernaungku selama belasan tahun sebelum aku akhirnya hijrah ke Kupang, NTT untuk memulai karir dalam kehidupanku. Lima puluh tujuh tahun yang lalu, aku dilahirkan di sebuah rumah kecil berdindingkan batang bambu yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kami tidak kepanasan dan kehujanan.

Selama beberapa lama aku hidup bersama keluarga dalam kesederhanaan dan kedisiplinan yang tinggi yang diterapkan oleh ayah. Namun, hidup di daerah yang kekurangan air, kekeringan yang melanda hampir setiap tahun karena curah hujan yang rendah, dan juga penghasilan yang pas-pasan sebagai seorang guru untuk memberi makan enam mulut, memaksa ayah untuk menitipkanku pada seorang paman, saudara ayah, yang tinggal di bagian timur Sabu bernama Bolou. Umurku waktu itu lima tahun. Sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, aku menurut saja apa kata ayah walaupun ingin sekali bertanya, “Kenapa kita harus hidup terpisah?”.

Hidup bersama saudara ayahmu bukan berarti kau bisa makan dan tidur seenaknya. Tubuhku yang kecil ini mau tidak mau harus bekerja untuk membantu paman. Dia memang seorang Kepala Sekolah yang tidak memiliki anak, namun bukan berarti aku hanya berpangku tangan dan berpura-pura tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Jam lima pagi, aku sudah harus bergegas memikul air dari mata air ke rumah menggunakan haik[1] untuk kebutuhan sehari-sehari seperti minum dan menanak nasi. Segera setelah pekerjaan itu selesai, aku kemudian menuju ke pemandian umum, Lokoimada, untuk menyegarkan tubuh sesaat sebelum ke sekolah. Setiap hari rutinitas ini kujalankan tanpa mengeluh, tanpa putus asa ataupun mencaci maki pamanku sendiri. Tidak! Beliau sudah begitu baik menampungku di rumahnya. Aku tinggal bersamanya selama enam tahun, sebelum akhirnya kembali kepada keluargaku pada tahun 1968 untuk melanjutkan pendidikan di SMP 409 Seba.

Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan menuju ke sebuah sekolah dasar negeri kecil yang tidak memiliki meja dan kursi sebagai alas untuk duduk dan menulis. Meja kami hanya terbuat dari pelepah kelapa yang diikat serta dirangkai sedemikian rupa. Batu tulis berperan sebagai satu-satunya buku untuk mencatat setiap pelajaran yang kami dengar dan perhatikan. Jika batu tulis itu sudah penuh terisi oleh tulisan kami, maka kami harus menghapusnya untuk menuliskan kalimat yang baru lagi. Begitu seterusnya. Memang, fasilitas yang kami miliki sangat terbatas atau bahkan tidak ada. Namun, itu tidak menjadi alasan utama bagi kami, apalagi aku, untuk menyerah dalam menuntut ilmu.

Pada bulan Desember 1972, aku harus keluar dari Sabu dan pindah ke kota Kupang dikarenakan daerah asalku tidak memiliki gedung SMA beserta fasilitasnya sama sekali. Bersyukurlah kalian karena jaman sekarang telah diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu, tidak seperti jamanku dulu. Ayah menemaniku menyeberangi Laut Sawu dengan kapal laut AE 007 menuju kota Kupang. Di sana, aku tinggal bersama saudara kandung ayah yang adalah seorang polisi.

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa hidup bersama saudara ayahmu tidak semulus seperti kau menginap di hotel. Selalu ada pekerjaan yang harus kau lakukan untuk sekedar menumpang hidup dan tinggal. Membersihkan halaman, mencuci piring bahkan mengurus minuman, makanan dan kandang kuda harus kulakukan sebagai bentuk terima kasih dan juga hormat karena telah bersedia menerimaku di rumahnya. Ketika harus merawat kuda di kandangnya hingga malam, aku membawa serta beberapa buku pelajaran untuk di baca di sana di bawah lampu yang temaram. Aku tidak ingin mengenal kata lelah karena telah beraktifitas seharian. Bagiku, belajar adalah salah satu tonggak keberhasilanku di masa depan. Aku tidak mau berhenti dan tidak akan pernah berhenti.

Setelah menamatkan SMA, aku memutuskan untuk masuk ke sekolah pemerintahan sebagai satu-satunya jalan dan pilihan untuk merajut masa depan, membahagiakan kedua orang tua dan membangun daerah asalku. Ketika tamat dari sekolah ini pada tahun 1980, aku tidak langsung ditempatkan di kota besar begitu saja. Masih banyak jalan dan proses yang harus aku lalui untuk bisa sesukses sekarang ini. Kau tahu? Di NTT masih terdapat banyak desa terpencil dengan akses terbatas dan di situlah aku ditempatkan untuk pertama kalinya, tepatnya di desa Baulo. Tempat ini terletak 70 km dari pusat kota Atambua dan untuk menjangkaunya, aku harus berjalan kaki serta menyeberang Sungai Lakaan.

Kemudian, selama tahun 1982-1985, aku ditugaskan di daerah baru yang terletak di Adonara Timur, NTT, dan di sinilah aku  banyak  mendapatkan pelajaran berharga dari masyarakat sekitar. Walaupun harus tinggal di balai serba guna yang kosong dengan swadaya sendiri, tapi aku bahagia bisa mengenal dan duduk di tengah-tengah mereka. Bercakap-cakap sambil menikmati loma ayam[2] dan minum dari satu neak[3] sebagai lambang persahabatan dan persaudaraan, aku bisa mendengar pelbagai keluh kesah mereka.

Aku bersyukur pada Tuhan ketika tahun 1986, aku diberikan kesempatan untuk melanjutkan program sarjana di sebuah institut pemerintahan di Jakarta. Di tempat ini jugalah, aku bertemu dengan seorang wanita cantik yang kini sudah mendampingiku selama dua puluh empat tahun dan memberiku tiga bidadari cantik.

Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 1989, jalan seolah-olah terbuka lebar untukku. Karirku berkembang pesat. Aku, yang dulunya hanyalah seorang anak dari keluarga seorang guru yang pas-pasan, kini mendulang kesuksesan yang tiada terkira. Aku tidak pernah mempermasalahkan berapa penghasilan yang kudapat sebagai ukuran kesuksesan, tetapi perjuangan, tekad, doa dan peluh keringat yang bercucuran adalah tolak ukur kesuksesan seseorang. Bila kau mau berusaha untuk sukses, untuk meraih mimpimu, lakukanlah yang terbaik dan segalanya bisa terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa jalan untuk menuai sukses penuh kerikil dan terjal. Terlepas dari itu, yang kamu butuhkan adalah kegigihan dan semangat juang yang tinggi.

Mungkin, aku bukan Pattimura, Imam Bonjol, atau Presiden Soekarno yang menjadi pahlawan demi mempertahankan keutuhan RI tercinta . Tapi aku cukup berbangga diri karena dengan diberikannya kesempatan untuk kembali menjadi seorang abdi negara di daerah asalku, aku ingin menjadi pribadi yang memiliki peranan penting untuk memajukan setiap sendi kehidupan di sana. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk mengenalkan surga kecil ini pada setiap orang sebelum masa tugasku selesai. Ya, surga kecil di pelosok Tanah Air yang harus kau kunjungi bila ada kesempatan.
***



[1] Wadah penampungan air yang terbuat dari daun lontar
[2]  Ayam yang dikukus dalam bambu dan dicampur bumbu
[3] Tempat minum air lontar yang terbuat dari tempurung kelapa

Monday, January 13, 2014

Kasih Ibu Sepanjang Masa


Wanita itu tak lagi muda. Kulitnya yang keriput membungkus tulangnya yang kini semakin rapuh. Rambutnya memutih, kusam serta kusut. Sesekali dia berjalan tergopoh-gopoh mengambil sisir plastik yang tak lagi sempurna bentuknya yang diletakkan di atas meja riasnya. Berusaha sekeras mungkin untuk melembutkan rambutnya yang kusut, agar tampil cantik walaupun hanya bisa dinikmati sendiri melalui cermin kayu kecil yang sudah usang.
Sesekali dia mencoba memoles bibirnya yang tak lagi semerah tomat, namun dihapus juga pewarna bibir itu. Dia merasa lucu sendiri. Dia sudah tua, siapa yang akan dia pikat? Suami telah meninggalkannya dua puluh tahun silam karena memilih wanita yang lebih subur, sedangkan putra satu-satunya? Tak ada kabar yang kunjung datang, memberitahukan masih hidup atau sudah bertemu Sang Pencipta. Wanita ini hanya bisa menghela napas, merenungi nasib, lalu kembali ke kasur menunggu senja menghilang lalu menuju ke dapur jikalau lapar. Selebihnya? Menunggu pagi untuk berjualan kerupuk agar setidaknya bisa makan sekali sehari.
***
 “Ibu tau kan aku gak suka tempe. Kenapa disajikan terus di meja? Ibu sengaja ya?” Putranya berteriak marah begitu mendapati lauk siang kali ini hanya nasi putih, tempe dan juga sayur kangkung. Dia berharap, sesampainya di rumah dari seharian menuntut ilmu di bangku sekolah menengah atas, setidaknya ada daging ayam goreng kesukaannya yang bisa disantap.
“Nak, maafkan ibu. Tapi kita gak punya uang lebih untuk membeli ayam. Ibu takut, kalau ibu menguras semua tabungan ibu hanya untuk sekilo daging ayam, kamu gak bisa sekolah nantinya.” Putranya hanya terdiam mendengar kata-kata wanita itu. Dengan kasar dia mengambil piring dan sendok lalu mencoba menyantap lauk itu tapi lima menit kemudian, sendok dilempar dan dia berlari meninggalkan rumah dengan kesal. Wanita itu hanya bisa mengelus dadanya. Berharap, suatu saat nanti putranya akan mengerti kenapa dia harus melakukan semua ini. Bagi wanita itu, pendidikan adalah yang terpenting. Dia ingin anaknya sukses agar tidak harus mengenyam kehidupan seperti ini lagi.
“Ibu nyaman ya hidup seperti ini?” Putranya bertanya suatu ketika. Wanita itu mengerutkan keningnya yang memang sudah mulai keriput karena begitu banyak beban yang harus dia tanggung sepeninggal suaminya.
“Maksudmu, Nak?”
“Ya aku heran aja. Ibu sepertinya nyaman sekali hidup dengan kemiskinan ini. Ibu gak mau berusaha untuk hidup makmur, kaya, punya rumah mewah.”
“Nak, kita bisa makan tiga kali sehari saja sudah sangat bersyukur. Ibu bisa nyekolahin kamu sampai jenjang SMA udah merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan. Lantas buat apa kita harus iri dengan kehidupan orang? Sementara kita tidak bisa bersyukur dengan kehidupan yang sedang dijalani.”
“Ibu ini gimana sih? Di mana-mana, orang yang miskin itu pengen hidup kaya, pengen sukses biar gak teraniaya lagi. Ehhh.. Ibu malah nyuruh aku bersyukur. Aku bersyukur untuk apa? Untuk rumah reyot ini? Untuk tempe yang hampir setiap hari aku makan? Untuk sepatu yang sudah berlubang sana-sini? Untuk apa, Bu?” Putranya mengepalkan tangan. Terlihat dia begitu marah dengan sikap ibunya yang seolah-olah tidak ingin merubah nasib.
“Nak, Ibu bukannya gak mau merubah nasib. Tapi Ibu bisa apa? Ibu cuma tamatan SMP. Tapi setidaknya Ibu gak nganggur nyuruh kamu yang kerja, gantiin Ibu. Ibu mau bersusah payah mencuci baju orang untuk makan kamu sehari-hari, untuk membelikanmu seragam baru. Ibu tau, Ibu gak bisa ngasih kamu apa-apa seperti ketika masih ada Ayahmu. Ibu gak bisa beliin ayam, Ibu gak bisa beliin sepatu baru, tapi Ibu ikhlas membanting tulang demi kamu supaya jangan jadi seperti Ibu, yang cuma tamatan SMP. Supaya kamu yang merubah nasibmu, bukan Ibu. Dan kamu seharusnya bersyukur memiliki Ibu yang sangat sayang dan peduli sama kamu. ” Wanita itu berusaha untuk tidak terlihat rapuh di depan anaknya tapi air mata seperti tak menuruti kehendaknya. Menetes sedikit demi sedikit dari kedua bola matanya yang sudah tak lagi berbinar.
“Sudahlah, aku capek bicara sama Ibu!” Putranya membanting pintu dapur begitu keras sebelum akhirnya berlalu dari hadapan wanita itu.
“Ya Tuhan, kuatkanlah hamba. Jangan Kau keraskan hati anakku, ya Tuhan. Hamba mohon, jadikanlah dia pribadi yang tahu mengucap syukur.” Wanita itu sekali lagi menangis, menangis sekeras-kerasnya karena tak ada satupun punggung ataupun bahu di mana dia bisa menyandarkan kepalanya sejenak.
***
“Ibuuuuuuuuu… “
“Ada apa, Nak? Terjadi sesuatu sama kamu?” Ibunya lari terbirit-birit dari kamar mandi bak orang kesetanan. Dia mengira telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap putranya.
“Aku minta duit!” Putranya menyodorkan tangan kanannya ke arah sang ibu yang baru saja selesai mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Duit? Buat apa, Nak?”
“Besok Desta ulang tahun dan dia mengundang kami semua ke pestanya. Dia bilang, kami semua harus tampil cantik dan tampan karena bakal banyak banget orang penting yang hadir di sana. Ibu mengerti kan?”
“Berapa yang kamu butuhkan?”
“Hmmmm.. aku pengen beli kemeja, celana sama sepatu. Ibu gak mau kan anak Ibu yang tampan ini terlihat kumuh di antara para ‘bangsawan’? Setidaknya, aku harus menyamai mereka.” Kata-kata putranya walaupun terlihat sepele, namun cukup membebani hati dan pikiran wanita paruh baya ini.
“Bu?” Putranya melambaikan tangan di wajahnya.
“Maaf, Nak, Ibu gak punya uang sebanyak itu. Mengapa tidak kau pakai saja kemeja peninggalan ayahmu? Ibu rasa kemejanya masih bagus dan cocok jika kamu pakai. Gimana?” Wanita itu tersenyum seperti telah menyumbangkan ide yang sangat bagus untuk anaknya. Tapi kenyataannya…
“Maksud ibu? Ibu nyuruh aku pake kemeja usang, bau kayak gitu? Enggak, bu. Aku mau kemeja, celana, sepatu yang serba baru. Kalau Ibu gak ngasih duit juga, aku akan mencuri sampai aku dapetin apa yang aku inginkan.”
“Nakkkkkk….” Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat menyayangi putranya karena hanya dia satu-satunya harta berharga yang dimiliki. Dia sanggup kehilangan rumahnya, harta bendanya, tapi jangan sampai dia harus kehilangan putranya. Dan juga, lebih baik dia yang mencuri dan masuk penjara, karena dia tidak ingin melihat putranya kehilangan kesempatan serta masa depan cerah yang terbentang begitu luas untuknya. Kalaupun memang benar putranya suatu saat harus mencuri, dia akan menggantikannya di penjara. Putranya, anak semata wayangnya, yang harus dia jaga dan lindungi seumur hidup, tidak boleh satupun nasib buruk menimpa diri putranya. Cukup dia saja yang harus menanggung semua penderitaan ini. Dia sudah tua dan dia sudah tahu tujuan hidupnya. Biarlah sang putra berkelana mencari tujuan hidupnya.
Wanita itu berjalan lemas menuju kamarnya, membuka lemari, mengambil kotak kecil merah tempat menyimpan duit hasil kerja kerasnya, dan menyerahkan lebih dari setengah duitnya untuk dipakai putranya membeli apa yang dia inginkan. Senyum senang merekah begitu lebar di wajah putranya dan entah kenapa, walaupun sedih dan marah, wanita itu sangat terhibur melihat anaknya begitu bahagia. Lebih dari apapun, senyuman putranya merupakan obat penawar kesedihan yang paling manjur.
***
“Kamu kenapa merenung gitu, jeng? Brantem sama anakmu?” Tetangga wanita itu, berumur kira-kira dua tahun lebih tua darinya, datang menghampirinya ketika sedang menyapu halaman depan rumah.
“Enggak kok, jeng, aku gak brantem sama anakku. Aku cuma lagi mikir gimana caranya dapat tambahan uang? Aku tamatan SMP paling-paling cuma bisa jadi babu. Sedangkan, kebutuhan anakku makin hari makin meningkat. Adaaa saja yang dimintanya.” Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menyapu rumah. Tetangganya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan sesaat kemudian, dia menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.
“Kamu bisa nyanyi gak? Kebetulan, tempat suamiku bekerja sedang mencari penyanyi latar untuk mengiringi penyanyi utama. Kamu tertarik? Biar aku ngomong sama suamiku.”
“Maksudmu jadi penyanyi kafe? Dan kerjanya malam?”
“Ya, seperti itulah. Gimana?” Wanita itu terlihat ragu. Sesekali mengigit kuku jarinya. Memikirkan jikalau dia mengambil pekerjaan ini, apakah merupakan keputusan yang terbaik? Tapi jika tidak diambil, apakah dia sanggup membiarkan putranya tidak makan selama berhari-hari? Di samping itu, dia juga sangat ingin membelikan sepatu baru, seporsi ayam goreng kesukaan putranya dan memberikan apa pun yang putranya inginkan.
“Baiklah. Beri tahu suamimu, aku ingin mencoba pekerjaan itu.”
Sudah sebulan wanita itu menggeluti profesi barunya. Dari pagi pukul sembilan hingga pukul 12 siang, dia menjadi pembantu rumah tangga. Setelah itu, dia pulang ke rumah menyiapkan makan siang dan malam untuk putranya. Pada malam hari, ketika putranya sudah terlelap, kira-kira pukul sepuluh malam, dia pergi ke kafe bekerja sebagai penyanyi latar dan pulang dini hari pada pukul dua. Semua itu dilakukannya penuh sukacita karena dia ingin melihat senyum senang anaknya merekah lagi, seperti waktu itu. Putranya seakan tak peduli apa yang telah wanita itu perjuangkan dan korbankan. Yang dia tahu adalah seporsi ayam goreng kesukaannya tersaji di atas meja makan, sepasang sepatu baru yang sepertinya tampak mahal teronggok diam di depan pintu kamarnya dan sebuah tas baru yang digantung di belakang pintu kamarnya. Dan wanita itu, juga tidak berniat untuk mengatakan yang sejujurnya tentang profesi kedua yang sedang dijalaninya sekarang.
***
“Apa yang Ibu lakukan di kafe selama ini???” Wanita itu kaget ketika mendapati putranya pulang dalam keadaan marah.
“Aku dengar dari teman-temanku kalo Ibu sekarang nyanyi di kafe. Apa itu bener? Jawab bu!” Putranya menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu namun dia hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Selama ini dia berusaha menutupi pekerjaannya karena tidak ingin putranya malu, menanggung beban karena keputusannya. Bahwa dia juga berat pada awalnya ketika menerima pekerjaan ini namun, dia harus tetap maju demi putranya.
“Belum cukupkah kemiskinan yang kita miliki sekarang? Yang membuatku malu kalau bertemu Desta, Anton dan Fitra? Belum cukupkah Ibu sampai-sampai Ibu harus menjadi penyanyi kafe untuk membuatku malu?”
“Tidak, Nak. Ibu tidak pernah bermaksud membuatmu malu. Ibu hanya ingin membelikan ayam goreng kesukaanmu, sepatu baru juga apa pun yang kau inginkan. Ibu tidak ingin kamu begitu terpuruk dalam kemiskinan ini. Maafkan Ibu, Nak tapi sumpah demi Tuhan. Ibu tidak melakukan hal yang aneh-aneh di kafe seperti yang mungkin kamu bayangkan sekarang. Ibu ingat Tuhan dan juga kamu. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“Tapi aku udah terlanjur malu, Bu. Mau taruh di mana mukaku ini? Ibu seneng ya kalau di sekolah aku diejek, dihina hanya karena ibuku penyanyi kafe?”
“Demi Tuhan, Nak. Makanan yang kamu makan berasal dari uang yang halal. Ibu gak pernah macam-macam. Percayalah sama ibu.” Wanita itu terisak-isak seraya memohon pengertian dari putranya. Namun, apa yang telah dialami putranya tidak mengijinkannya untuk memberikan sedikit belas kasih untuk ibunya. Hatinya tertutup begitu rapat.
“Maaf, Bu. Aku udah gak tahan hidup malu, miskin dan hina seperti ini lagi. Jangan lagi sebut namaku dan juga, jangan pernah mencari aku. Aku pergi!”
“Nakkkk… Jangan pergi, Nakkkkk.. Jangan tinggalkan Ibu. Ibu minta maaf. Ibu gak akan nyanyi lagi. Nak, jangan pergi nakkkkk… “ Apapun usaha yang dilakukan wanita itu untuk mencegah putranya pergi, sama sekali gagal. Anak itu tetap berlalu dari hadapannya. Tinggallah seorang wanita paruh baya yang menangis tersedu-sedu dan memukuli dirinya sendiri mengapa semua ini terjadi padanya. Dia sudah berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang ibu bagi putranya, namun semua itu sia-sia. Putranya pergi meninggalkannya.
***
Januari 2011…
“Nenek sudah makan? Ini, aku bawain semur jengkol kesukaan nenek.”
“Terima kasih ya, Nak. Kalo gak ada kamu, nenek gak tau udah jadi apa sekarang.”
“Sini, aku sisirin rambut nenek.” Wanita tua itu tersenyum lalu memberikan satu-satunya sisir plastik kesayangannya. Begitulah cerita tentang dia dan anaknya yang diceritakan padaku. Aku tidak percaya kenapa ada seorang anak yang begitu tega meninggalkan ibunya melarat dalam kesendirian dan kemiskinan. Aku mulai merawatnya kira-kira dua tahun yang lalu, ketika aku menyelamatkannya yang hampir saja ditabrak motor yang melaju dengan sangat kencang.
“Nenek lagi mikir apa?” aku bertanya sambil tetap mencoba melembutkan rambutnya yang kusam.
“Nenek tiba-tiba teringat Toni. Seperti apa ya dia sekarang? Sudah sukseskah dia? Sudah bahagiakah dia?” Aku hanya bisa terdiam. Memang, kasih ibu sepanjang masa. Walaupun putranya telah pergi begitu saja meninggalkan dia, tak satupun dia menyisakan semenit untuk membencinya. Kasihnya yang begitu besar mengalahkan segala rasa benci dan amarah yang mungkin saja pernah mampir di hati dan pikirannya.
“Kita doakan saja ya, Nek, yang terbaik buat dia.” Wanita itu mengangguk dan tersenyum hangat.
“Nenek kangen Toni.” Itulah kata-kata terakhir yang diembuskan pelan dari wanita tua itu sebelum akhirnya aku menyadari bahwa dia sudah tidak lagi menghuni dunia ini. Kupeluk tubuh yang sudah mulai mendingin itu dengan erat tapi aku tidak mau menangis. Tidak! Menangis tidak akan mengembalikan orang yang sudah tiada. Lalu, selembar kertas jatuh dari genggaman tangannya. Sepertinya sebuah surat.

Untuk Toni,
Semenjak kepergian ayahmu, Ibu merasa hampa, Ibu merasa tidak tahu harus berbuat apa. Ibu merasa sendirian. Namun, begitu melihatmu yang sedang mengunyah biskuit dengan gigi kecilmu, saat itu juga Ibu merasa punya alasan untuk hidup. Senyummu yang menguatkan Ibu sampai detik ini walau kau tak ada lagi untuk Ibu.
Ketika kamu mengeluh tentang tempe, tentang sepatu yang sudah bolong di sana-sini, tentang uang jajan yang tak pernah cukup, Ibu juga merasakan sakit, Nak. Ibu ingin melihatmu bahagia seperti anak-anak yang lain. Ibu ingin melihatmu tertawa lepas. Dan, Ibu ingin sesekali kau datang menghampiri untuk bilang “terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu.”. Betapa Ibu ingin mendengar itu semua, Nak. Betapa Ibu sangat menyayangimu melebihi jiwa dan raga.
 Kembalilah Nak. Maafkan Ibu.

Aku menarik napas. Wanita tua ini masih mengharapkan anaknya kembali ke dalam pelukannya. Memanggilnya Ibu dan mengecup keningnya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka bisa berkumpul bersama.
“Jangan khawatir, Nek. Suatu saat nanti, kalau Toni telah kembali, akan kusampaikan surat ini.” Bisikku di telinganya.
END