Wanita itu tak lagi muda. Kulitnya yang
keriput membungkus tulangnya yang kini semakin rapuh. Rambutnya memutih, kusam
serta kusut. Sesekali dia berjalan tergopoh-gopoh mengambil sisir plastik yang
tak lagi sempurna bentuknya yang diletakkan di atas meja riasnya. Berusaha
sekeras mungkin untuk melembutkan rambutnya yang kusut, agar tampil cantik
walaupun hanya bisa dinikmati sendiri melalui cermin kayu kecil yang sudah usang.
Sesekali dia mencoba memoles bibirnya
yang tak lagi semerah tomat, namun dihapus juga pewarna bibir itu. Dia merasa
lucu sendiri. Dia sudah tua, siapa yang akan dia pikat? Suami telah
meninggalkannya dua puluh tahun silam karena memilih wanita yang lebih subur,
sedangkan putra satu-satunya? Tak ada kabar yang kunjung datang, memberitahukan
masih hidup atau sudah bertemu Sang Pencipta. Wanita ini hanya bisa menghela
napas, merenungi nasib, lalu kembali ke kasur menunggu senja menghilang lalu
menuju ke dapur jikalau lapar. Selebihnya? Menunggu pagi untuk berjualan
kerupuk agar setidaknya bisa makan sekali sehari.
***
“Ibu
tau kan aku gak suka tempe. Kenapa disajikan terus di meja? Ibu sengaja ya?”
Putranya berteriak marah begitu mendapati lauk siang kali ini hanya nasi putih,
tempe dan juga sayur kangkung. Dia berharap, sesampainya di rumah dari seharian
menuntut ilmu di bangku sekolah menengah atas, setidaknya ada daging ayam
goreng kesukaannya yang bisa disantap.
“Nak, maafkan ibu. Tapi kita gak punya
uang lebih untuk membeli ayam. Ibu takut, kalau ibu menguras semua tabungan ibu
hanya untuk sekilo daging ayam, kamu gak bisa sekolah nantinya.” Putranya hanya
terdiam mendengar kata-kata wanita itu. Dengan kasar dia mengambil piring dan
sendok lalu mencoba menyantap lauk itu tapi lima menit kemudian, sendok dilempar
dan dia berlari meninggalkan rumah dengan kesal. Wanita itu hanya bisa mengelus
dadanya. Berharap, suatu saat nanti putranya akan mengerti kenapa dia harus
melakukan semua ini. Bagi wanita itu, pendidikan adalah yang terpenting. Dia
ingin anaknya sukses agar tidak harus mengenyam kehidupan seperti ini lagi.
“Ibu nyaman ya hidup seperti ini?”
Putranya bertanya suatu ketika. Wanita itu mengerutkan keningnya yang memang
sudah mulai keriput karena begitu banyak beban yang harus dia tanggung
sepeninggal suaminya.
“Maksudmu, Nak?”
“Ya aku heran aja. Ibu sepertinya nyaman
sekali hidup dengan kemiskinan ini. Ibu gak mau berusaha untuk hidup makmur,
kaya, punya rumah mewah.”
“Nak, kita bisa makan tiga kali sehari
saja sudah sangat bersyukur. Ibu bisa nyekolahin kamu sampai jenjang SMA udah
merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan. Lantas buat apa kita harus iri dengan
kehidupan orang? Sementara kita tidak bisa bersyukur dengan kehidupan yang
sedang dijalani.”
“Ibu ini gimana sih? Di mana-mana, orang
yang miskin itu pengen hidup kaya, pengen sukses biar gak teraniaya lagi.
Ehhh.. Ibu malah nyuruh aku bersyukur. Aku bersyukur untuk apa? Untuk rumah
reyot ini? Untuk tempe yang hampir setiap hari aku makan? Untuk sepatu yang
sudah berlubang sana-sini? Untuk apa, Bu?” Putranya mengepalkan tangan.
Terlihat dia begitu marah dengan sikap ibunya yang seolah-olah tidak ingin
merubah nasib.
“Nak, Ibu bukannya gak mau merubah
nasib. Tapi Ibu bisa apa? Ibu cuma tamatan SMP. Tapi setidaknya Ibu gak
nganggur nyuruh kamu yang kerja, gantiin Ibu. Ibu mau bersusah payah mencuci
baju orang untuk makan kamu sehari-hari, untuk membelikanmu seragam baru. Ibu
tau, Ibu gak bisa ngasih kamu apa-apa seperti ketika masih ada Ayahmu. Ibu gak
bisa beliin ayam, Ibu gak bisa beliin sepatu baru, tapi Ibu ikhlas membanting
tulang demi kamu supaya jangan jadi seperti Ibu, yang cuma tamatan SMP. Supaya
kamu yang merubah nasibmu, bukan Ibu. Dan kamu seharusnya bersyukur memiliki
Ibu yang sangat sayang dan peduli sama kamu. ” Wanita itu berusaha untuk tidak
terlihat rapuh di depan anaknya tapi air mata seperti tak menuruti kehendaknya.
Menetes sedikit demi sedikit dari kedua bola matanya yang sudah tak lagi
berbinar.
“Sudahlah, aku capek bicara sama Ibu!”
Putranya membanting pintu dapur begitu keras sebelum akhirnya berlalu dari
hadapan wanita itu.
“Ya Tuhan, kuatkanlah hamba. Jangan Kau
keraskan hati anakku, ya Tuhan. Hamba mohon, jadikanlah dia pribadi yang tahu
mengucap syukur.” Wanita itu sekali lagi menangis, menangis sekeras-kerasnya
karena tak ada satupun punggung ataupun bahu di mana dia bisa menyandarkan
kepalanya sejenak.
***
“Ibuuuuuuuuu… “
“Ada apa, Nak? Terjadi sesuatu sama
kamu?” Ibunya lari terbirit-birit dari kamar mandi bak orang kesetanan. Dia
mengira telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap putranya.
“Aku minta duit!” Putranya menyodorkan
tangan kanannya ke arah sang ibu yang baru saja selesai mengatur napasnya yang
tersengal-sengal.
“Duit? Buat apa, Nak?”
“Besok Desta ulang tahun dan dia
mengundang kami semua ke pestanya. Dia bilang, kami semua harus tampil cantik
dan tampan karena bakal banyak banget orang penting yang hadir di sana. Ibu
mengerti kan?”
“Berapa yang kamu butuhkan?”
“Hmmmm.. aku pengen beli kemeja, celana
sama sepatu. Ibu gak mau kan anak Ibu yang tampan ini terlihat kumuh di antara
para ‘bangsawan’? Setidaknya, aku harus menyamai mereka.” Kata-kata putranya
walaupun terlihat sepele, namun cukup membebani hati dan pikiran wanita paruh
baya ini.
“Bu?” Putranya melambaikan tangan di
wajahnya.
“Maaf, Nak, Ibu gak punya uang sebanyak
itu. Mengapa tidak kau pakai saja kemeja peninggalan ayahmu? Ibu rasa kemejanya
masih bagus dan cocok jika kamu pakai. Gimana?” Wanita itu tersenyum seperti telah
menyumbangkan ide yang sangat bagus untuk anaknya. Tapi kenyataannya…
“Maksud ibu? Ibu nyuruh aku pake kemeja
usang, bau kayak gitu? Enggak, bu. Aku mau kemeja, celana, sepatu yang serba
baru. Kalau Ibu gak ngasih duit juga, aku akan mencuri sampai aku dapetin apa
yang aku inginkan.”
“Nakkkkkk….” Wanita itu tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Dia sangat menyayangi putranya karena hanya dia
satu-satunya harta berharga yang dimiliki. Dia sanggup kehilangan rumahnya,
harta bendanya, tapi jangan sampai dia harus kehilangan putranya. Dan juga,
lebih baik dia yang mencuri dan masuk penjara, karena dia tidak ingin melihat
putranya kehilangan kesempatan serta masa depan cerah yang terbentang begitu
luas untuknya. Kalaupun memang benar putranya suatu saat harus mencuri, dia akan menggantikannya di penjara. Putranya, anak
semata wayangnya, yang harus dia jaga dan lindungi seumur hidup, tidak boleh
satupun nasib buruk menimpa diri putranya. Cukup dia saja yang harus menanggung
semua penderitaan ini. Dia sudah tua dan dia sudah tahu tujuan hidupnya.
Biarlah sang putra berkelana mencari tujuan hidupnya.
Wanita itu berjalan lemas menuju
kamarnya, membuka lemari, mengambil kotak kecil merah tempat menyimpan duit
hasil kerja kerasnya, dan menyerahkan lebih dari setengah duitnya untuk dipakai
putranya membeli apa yang dia inginkan. Senyum senang merekah begitu lebar di
wajah putranya dan entah kenapa, walaupun sedih dan marah, wanita itu sangat terhibur
melihat anaknya begitu bahagia. Lebih dari apapun, senyuman putranya merupakan
obat penawar kesedihan yang paling manjur.
***
“Kamu kenapa merenung gitu, jeng? Brantem sama anakmu?” Tetangga
wanita itu, berumur kira-kira dua tahun lebih tua darinya, datang
menghampirinya ketika sedang menyapu halaman depan rumah.
“Enggak kok, jeng, aku gak brantem sama anakku. Aku cuma lagi mikir gimana
caranya dapat tambahan uang? Aku tamatan SMP paling-paling cuma bisa jadi babu.
Sedangkan, kebutuhan anakku makin hari makin meningkat. Adaaa saja yang
dimintanya.” Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menyapu
rumah. Tetangganya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan sesaat kemudian, dia
menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.
“Kamu bisa nyanyi gak? Kebetulan, tempat
suamiku bekerja sedang mencari penyanyi latar untuk mengiringi penyanyi utama.
Kamu tertarik? Biar aku ngomong sama suamiku.”
“Maksudmu jadi penyanyi kafe? Dan
kerjanya malam?”
“Ya, seperti itulah. Gimana?” Wanita itu
terlihat ragu. Sesekali mengigit kuku jarinya. Memikirkan jikalau dia mengambil
pekerjaan ini, apakah merupakan keputusan yang terbaik? Tapi jika tidak diambil,
apakah dia sanggup membiarkan putranya tidak makan selama berhari-hari? Di
samping itu, dia juga sangat ingin membelikan sepatu baru, seporsi ayam goreng
kesukaan putranya dan memberikan apa pun yang putranya inginkan.
“Baiklah. Beri tahu suamimu, aku ingin
mencoba pekerjaan itu.”
Sudah sebulan wanita itu menggeluti
profesi barunya. Dari pagi pukul sembilan hingga pukul 12 siang, dia menjadi
pembantu rumah tangga. Setelah itu, dia pulang ke rumah menyiapkan makan siang
dan malam untuk putranya. Pada malam hari, ketika putranya sudah terlelap,
kira-kira pukul sepuluh malam, dia pergi ke kafe bekerja sebagai penyanyi latar
dan pulang dini hari pada pukul dua. Semua itu dilakukannya penuh sukacita
karena dia ingin melihat senyum senang anaknya merekah lagi, seperti waktu itu.
Putranya seakan tak peduli apa yang telah wanita itu perjuangkan dan korbankan.
Yang dia tahu adalah seporsi ayam goreng kesukaannya tersaji di atas meja makan,
sepasang sepatu baru yang sepertinya tampak mahal teronggok diam di depan pintu
kamarnya dan sebuah tas baru yang digantung di belakang pintu kamarnya. Dan
wanita itu, juga tidak berniat untuk mengatakan yang sejujurnya tentang profesi
kedua yang sedang dijalaninya sekarang.
***
“Apa yang Ibu lakukan di kafe selama
ini???” Wanita itu kaget ketika mendapati putranya pulang dalam keadaan marah.
“Aku dengar dari teman-temanku kalo Ibu
sekarang nyanyi di kafe. Apa itu bener? Jawab bu!” Putranya
menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu namun dia hanya diam, tidak tahu harus
mengatakan apa. Selama ini dia berusaha menutupi pekerjaannya karena tidak
ingin putranya malu, menanggung beban karena keputusannya. Bahwa dia juga berat
pada awalnya ketika menerima pekerjaan ini namun, dia harus tetap maju demi
putranya.
“Belum cukupkah kemiskinan yang kita
miliki sekarang? Yang membuatku malu kalau bertemu Desta, Anton dan Fitra?
Belum cukupkah Ibu sampai-sampai Ibu harus menjadi penyanyi kafe untuk
membuatku malu?”
“Tidak, Nak. Ibu tidak pernah bermaksud
membuatmu malu. Ibu hanya ingin membelikan ayam goreng kesukaanmu, sepatu baru
juga apa pun yang kau inginkan. Ibu tidak ingin kamu begitu terpuruk dalam
kemiskinan ini. Maafkan Ibu, Nak tapi sumpah demi Tuhan. Ibu tidak melakukan
hal yang aneh-aneh di kafe seperti yang mungkin kamu bayangkan sekarang. Ibu
ingat Tuhan dan juga kamu. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“Tapi aku udah terlanjur malu, Bu. Mau
taruh di mana mukaku ini? Ibu seneng ya kalau di sekolah aku diejek, dihina
hanya karena ibuku penyanyi kafe?”
“Demi Tuhan, Nak. Makanan yang kamu
makan berasal dari uang yang halal. Ibu gak pernah macam-macam. Percayalah sama
ibu.” Wanita itu terisak-isak seraya memohon pengertian dari putranya. Namun,
apa yang telah dialami putranya tidak mengijinkannya untuk memberikan sedikit
belas kasih untuk ibunya. Hatinya tertutup begitu rapat.
“Maaf, Bu. Aku udah gak tahan hidup
malu, miskin dan hina seperti ini lagi. Jangan lagi sebut namaku dan juga,
jangan pernah mencari aku. Aku pergi!”
“Nakkkk… Jangan pergi, Nakkkkk.. Jangan
tinggalkan Ibu. Ibu minta maaf. Ibu gak akan nyanyi lagi. Nak, jangan pergi
nakkkkk… “ Apapun usaha yang dilakukan wanita itu untuk mencegah putranya
pergi, sama sekali gagal. Anak itu tetap berlalu dari hadapannya. Tinggallah
seorang wanita paruh baya yang menangis tersedu-sedu dan memukuli dirinya
sendiri mengapa semua ini terjadi padanya. Dia sudah berusaha melakukan yang
terbaik sebagai seorang ibu bagi putranya, namun semua itu sia-sia. Putranya
pergi meninggalkannya.
***
Januari 2011…
“Nenek sudah makan? Ini, aku bawain
semur jengkol kesukaan nenek.”
“Terima kasih ya, Nak. Kalo gak ada
kamu, nenek gak tau udah jadi apa sekarang.”
“Sini, aku sisirin rambut nenek.” Wanita
tua itu tersenyum lalu memberikan satu-satunya sisir plastik kesayangannya.
Begitulah cerita tentang dia dan anaknya yang diceritakan padaku. Aku tidak
percaya kenapa ada seorang anak yang begitu tega meninggalkan ibunya melarat
dalam kesendirian dan kemiskinan. Aku mulai merawatnya kira-kira dua tahun yang
lalu, ketika aku menyelamatkannya yang hampir saja ditabrak motor yang melaju
dengan sangat kencang.
“Nenek lagi mikir apa?” aku bertanya
sambil tetap mencoba melembutkan rambutnya yang kusam.
“Nenek tiba-tiba teringat Toni. Seperti
apa ya dia sekarang? Sudah sukseskah dia? Sudah bahagiakah dia?” Aku hanya bisa
terdiam. Memang, kasih ibu sepanjang masa. Walaupun putranya telah pergi begitu
saja meninggalkan dia, tak satupun dia menyisakan semenit untuk membencinya.
Kasihnya yang begitu besar mengalahkan segala rasa benci dan amarah yang
mungkin saja pernah mampir di hati dan pikirannya.
“Kita doakan saja ya, Nek, yang terbaik
buat dia.” Wanita itu mengangguk dan tersenyum hangat.
“Nenek kangen Toni.” Itulah kata-kata
terakhir yang diembuskan pelan dari wanita tua itu sebelum akhirnya aku
menyadari bahwa dia sudah tidak lagi menghuni dunia ini. Kupeluk tubuh yang
sudah mulai mendingin itu dengan erat tapi aku tidak mau menangis. Tidak!
Menangis tidak akan mengembalikan orang yang sudah tiada. Lalu, selembar kertas
jatuh dari genggaman tangannya. Sepertinya sebuah surat.
Untuk
Toni,
Semenjak
kepergian ayahmu, Ibu merasa hampa, Ibu merasa tidak tahu harus berbuat apa.
Ibu merasa sendirian. Namun, begitu melihatmu yang sedang mengunyah biskuit
dengan gigi kecilmu, saat itu juga Ibu merasa punya alasan untuk hidup.
Senyummu yang menguatkan Ibu sampai detik ini walau kau tak ada lagi untuk Ibu.
Ketika
kamu mengeluh tentang tempe, tentang sepatu yang sudah bolong di sana-sini,
tentang uang jajan yang tak pernah cukup, Ibu juga merasakan sakit, Nak. Ibu
ingin melihatmu bahagia seperti anak-anak yang lain. Ibu ingin melihatmu
tertawa lepas. Dan, Ibu ingin sesekali kau datang menghampiri untuk bilang
“terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu.”. Betapa Ibu ingin mendengar itu semua, Nak.
Betapa Ibu sangat menyayangimu melebihi jiwa dan raga.
Kembalilah Nak. Maafkan Ibu.
Aku menarik napas. Wanita tua ini masih
mengharapkan anaknya kembali ke dalam pelukannya. Memanggilnya Ibu dan mengecup
keningnya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka bisa berkumpul
bersama.
“Jangan khawatir, Nek. Suatu saat nanti,
kalau Toni telah kembali, akan kusampaikan surat ini.” Bisikku di telinganya.
END