Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Wednesday, November 12, 2014

Happy Father's Day: Ayah dan Kami

Pria itu gagah. Berdiri tegap memimpin jalannya upacara. Dibalut seragam safari biru tua, dia mengomando dengan suara lantang. Barisan manusia di depannya tak ada yang bergerak, khidmat mendengar suaranya yang cukup membahana, walaupun matahari tak hentinya memancarkan keperkasaan. Seusai upacara, barisan itu membubarkan diri dan segera menuju meja masing-masing untuk menunaikan tugas. Pria itu berjalan--masih dengan badan yang tegap--juga menuju ruangannya, duduk, dan mulai menggenggam pena. Ditandatanganinya berkas yang perlu dikoreksi. Keningnya berkerut bilamana mendapatkan kejanggalan dan bibirnya menyunggingkan senyum jika berkas tersebut sudah benar. Siang malam dia bekerja, tanpa mengeluh, tanpa meneriakkan kebosanannya. Meja dan segala berkas adalah saksi bisu bagaimana kerasnya dia menjalani hari.

Ayah, begitu kami memanggilnya, merupakan satu-satunya sosok dalam keluarga kecil ini. Kami semua perempuan--3 anak gadis dan 1 istri. Sebagian besar sosok ayah dikenal sebagai pribadi yang terbilang keras, sangat sangat sangat disiplin, dan kurang mengerti perasaan yang dimiliki anak gadisnya. Well, itu sama sekali tidak benar. Ayah kami adalah ayah yang penuh kasih. Walaupun sesekali kekerasan muncul dalam sosoknya, tapi dia tidak pernah sebegitu kejamnya terhadap kami. Jika Ibu marah dan mengomel, Ayah yang selalu menjadi tempat kami mengadu. Kami mengadu apa pun yang dilakukan Ibu terhadap kami, termasuk kata-katanya. Biasanya anak kecil selalu melebih-lebihkan agar tidak dimarahi atau dipukuli. Dan itu terjadi pula kepada kami. Namun, Ayah dengan bijaknya mengatakan kepada kami untuk memahami Ibu karena beliaulah yang melahirkan kami, yang "menggendong" kami selama sembilan bula. Jadi, tak sepantasnya kami marah atau berlaku kasar.

Dulu kami suka sekali jajan (sampai sekarang malah), suka sekali membeli baju, permainan, sepatu, dll. Kalau meminta upah atau duit ke Ibu, beliau pasti tidak akan memberi sehingga kami selalu mengatainya pelit. Lalu, kami akan berlari ke Ayah dan dengan entengnya meminta upah. Ayah, dengan tersenyum, kemudian memberikan beberapa lembar duit dan berpesan "Awas, nanti ibumu tahu." Makanya kami selalu meminta jajan pada Ayah karena dengan beliau, semuanya terasa lebih "gampang." Tak ayal aku pun sempat bercita-cita untuk membahagiakan ayah saja (Hahaha). Namun, ketika sudah dewasa, Ayah mulai menasihati kami perlahan-lahan. Katanya, "Ibu "pelit" karena dia adalah bendahara rumah tangga. Dia yang mengatur semua pengeluaran dan pemasukan anggaran. Jadi, wajar kalau Ibu "pelit."

Saat masih SD, jika waktu belajar di malam hari telah tiba (seingatku kami mulai belajar jam 7 malam), Ibu yang akan mengajari kami. Namun, kami merasa Ibu "terlalu galak" sebagai guru privat (Hahaha). Jadi, kami mulai ngambek dan tidak ingin diajari Ibu lagi. Alhasil, kami akan berlari pada Ayah dan memintanya untuk mengajari kami. Setidaknya Ayah lebih sabar dalam hal ini walaupun terkadang kami tidak mengerti apa yang diajarkan beliau. Sungguh! Beliau lebih cocok jadi PNS di belakang meja ketimbang jadi guru. Tapi Ibu juga terlalu galak untuk menjadi guru :p

Kembali lagi ke persoalan "Ibu yang pelit." Jika Ibu selalu memilih makanan yang sangat sangat sangat murah untuk dikonsumsi--dengan alasan penghematan uang--lain halnya dengan Ayah. Beliau pasti akan berkata, "Uang gak apa-apa habis untuk makanan. Itu lebih bagus daripada dihabiskan untuk belanja yang nggak penting dan yang bener-bener nggak dibutuhin." Kami sangat menyayangimu, Ayah :) :) :)

Kami sangat suka ketika beliau memanggil dengan sebutan "Nak", daripada memanggil hanya dengan nama. Suara beliau saat memanggil "Nak" terdengar sangat lembut, menyentuh, menyejukkan, dan penuh kasih. Ahh, aku ingin memeluk Ayah sekarang juga.

Beliau selalu mengajarkan kami untuk menjadi perempuan yang mandiri. Kelak menjadi seorang istri jangan membebankan suami. Setidaknya kami harus memiliki pekerjaan mapan untuk mencukupi kebutuhan kami dan tidak bergelayut manja di lengan suami karena suami juga memiliki beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai ayah, suami, dan kepala rumah tangga. 

Tapi jangan salah, Ayah kalau marah juga seram. Beliau kalau sudah mengatakan A pasti akan tetap A walaupun memang sih masih bisa dirubah kalau kita cukup cerdik merayunya (hehehe). Ayah juga merupakan seorang pribadi pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Juga merupakan seorang pribadi yang jujur. Sedikit bocoran. Dulu sempat ada proyek yang ingin melibatkan Ayah, yah tau sendirilah birokrasi di negeri ini. Ayah ingin dibayar dengan sejumlah uang yang tidak sedikit, tapi bersyukurlah karena dia dikelilingi oleh adik saya yang 'galak' saat mendengar berita itu. Tidak segan-segan dia memarahi Ayah agar tidak menerima proyek itu dan Ayah memang dari awal sudah berniat untuk tetap jujur. Sempat Ayah dan adik saya dikejar oleh penguntit tak dikenal (namanya juga penguntit) agar Ayah menerima proyek itu. Tapi Ayah tetap pada prinsipnya. Mungkin terdengar rohani, Ayah tidak mau menerimanya karena beliau takut Tuhan, beliau juga sayang keluarga. Well, bisa dibilang Ayah kami pemberani dan jujur.

Ayah, walaupun kami telah beranjak dewasa, kami sudah mulai tenggelam dalam kesibukan kami dan keriputmu mulai nampak, kami tidak akan pernah melupakanmu. Di saat tubuhmu mulai digerogoti penyakit misterius itu (pertama kali aku mendengarnya, aku menangis dalam doa) kami tetap menyayangimu. Semoga cepat sembuh Ayah dan harus sembuh, tidak boleh tidak. Ayah harus tertawa dan tertawa sampai nanti.

Ayah, walaupun kau tidak berada di dekat kami saat ini, jangan khawatir karena dalam ruang dan waktu kita selalu bersama.

Ayah, walaupun aku sering berbohong pergi ke gereja tapi nyatanya tidak, walaupun aku selalu takut mengabarimu bahwa tidak lolos dalam penerimaan karyawan ini dan itu, walaupun terkadang tidak nyaman saat kau mulai berbicara serius mengenai perjodohan, pekerjaan, dll, walaupun kita selalu bertengkar karena pendapat yang tak sama, walaupun terkadang kau keras padaku bilamana aku tak menurut perintahmu, kau selalu tetap di hati. Kaulah cinta pertama dan selamanya kami. Kaulah sosok lelaki yang tak pernah tergantikan dalam hati kami. 

Hari ini adalah hari ayah (meskipun di Indonesia tidak merayakan hari ayah) dan aku mendedikasikan tulisan terbuka ini untukmu. Meskipun kau tidak (mungkin tidak akan pernah) membacanya, aku senang pernah menuliskan ini tentangmu. Semoga kau sehat selalu di sana bersama Ibu, semoga kau tetap bahagia bilamana salah satu dari kami membangkang. Tetap menyayangi kami jika suatu saat sayang kami mulai memudar. Maaf jika kami selalu menyakitimu, selalu membuatmu menangis, dan terkadang membuatmu marah. Sekali lagi, dengan hati sekecil ini, kami ingin bilang kami menyayangimu :)

HAPPY FATHER'S DAY ^^




Mendung Kali Ini...

Kami sudah beranjak dewasa. Bukan lagi seorang gadis kecil yang memainkan boneka di teras rumah atau bermain rumah-rumahan bersama teman lainnya. Kami sudah cukup sibuk sekarang. Waktu terasa berputar sangat cepat, menyisakan sangat sedikit kesempatan bagi kami untuk bertatap muka.

Masih jelas di ingatan bagaimana dulu sewaktu kecil, kami bermain, berlari-larian--sebut saja sedang mengejar kupu-kupu cantik yang berhenti sebentar di kelopak bunga mawar. Kupu-kupu itu cantik, berwarna kuning, tapi bila dipegang bagian sayapnya bisa terasa serbuknya yang menempel di ujung telunjuk dan ibu jari. Kami masih suka menciprat-cipratkan air bila mandi bersama di halaman belakang rumah yang berpagar alami dan tinggi.

Jika malam tiba, seusai 2 jam belajar yang melelahkan, aku berteriak "ayo main petak umpet", suatu kode atau sinyal untuk mengumpulkan teman-teman sekompleks. Setelah kami berkumpul, aku, adikku, dan teman-teman mulai saling menunjuk siapa yang "berjaga di pos sembunyi" untuk pertama kali, sedangkan lainnya mencari tempat persembunyian yang teramat sulit. Yah, kami sangat menikmati masa-masa itu. Masa-masa pekerjaan bukan menjadi beban utama kami, atau memiliki kekasih bukan tujuan lain kami. Kami hanya tahu dua hal: belajar dan bermain. Itu tugas utama kami.

Ketika hari hujan. walaupun aku membawa payung, payung itu tidak kubuka. Aku ingin bermain bersama dia, menikmati hujan yang datang hanya beberapa lama di kota kecilku yang terbilang kering. Hingga tubuh kami basah, hingga kami sakit dan dimarahi ibu habis-habisan. Dan kami benar-benar menyukai hujan karena bisa menjadi alasan utama untuk tidak berangkat sekolah. Kebetulan  sekolah kami suka kebanjiran jika musim hujan datang. Di dekatnya semacam ada selokan besar tempat menampung air dan bila hujan akan meluap sehingga kami harus siap sedia dengan membawa sandal jepit.

Kini kami sudah beranjak dewasa. Kami mulai mengerti apa itu cinta dan bagaimana rasanya patah hati, bagaimana ditinggalkan dan meninggalkan orang terkasih, bagaimana rasanya kabar kehidupan dan kematian yang datang silih berganti. Kami mulai berpikir bagaimana caranya untuk mempertahankan kehidupan bilamana sandaran kami tidak lagi mendukung kami. Kami mulai memperhitungkan apa yang harus diperbuat dan apa yang harus dijauhi. Kami sudah mulai mengerti bagaimana kehidupan itu seharusnya berjalan.

Kesibukan yang kini tengah menghanyutkan kami, membuat masing-masing sudah lagi--hampir--tidak menanyakan kabar. Kesibukan membuat kami tidak lagi punya cukup waktu untuk bersama. Memang kami tetap bersama di bawah satu atap, tapi seolah-olah kami hanya numpang tidur. Seperti hotel saja. Lalu pagi-pagi sekali kami bangun untuk mencari sebongkah berlian. Kami yang dulu, yang bisa membagi waktu untuk belajar, bermain, dan tidur, kini sudah tak lagi bisa melakukannya. Kebanyakan waktu ini dihabiskan untuk memaksa tubuh memuaskan dahaga kebutuhan kami. 

Jujur, dalam hati masing-masing, kami merindukan tawa bersama, tawa yang bukan milik sendiri. Kami rindu menangis bersama, bukan memendam rasa seolah-olah diri terlalu kuat untuk menampungnya. Kami rindu berjalan bersama, bukan berjalan sendiri seolah-olah tidak butuh teman di samping. Kami rindu berebut makanan, berebut pakaian, berebut sepatu. Dan mendung kali ini mengingatkanku pada dua adikku yang hanyut dalam kesibukan dan kegiatan mereka (termasuk aku). Memang kami masih dekat, masih seperti dulu, tapi kebersamaan itu yang perlahan-lahan hilang. Dan itulah kehidupan, itulah waktu.


Wednesday, November 5, 2014

Keluh Kesah Sinetron

Sore kemarin, di dalam kamar lebih tepatnya, saya sedang duduk sambil menikmati semilir angin buatan (baca: AC). Iseng-iseng saya mencoba menonton salah satu TV swasta. Yeah, biasalah di sore hari (mulai jam 5) hingga malam hari (kurang lebih hingga jam 9 malam) berbagai tv swasta berlomba-lomba menayangkan program unggulan masing-masing, walaupun beberapa di antaranya menayangkan acara yang, maaf, tidak terlalu mendidik.

Nah, sore itu saya menyaksikan sinetron yang memang baru diproduksi beberapa hari lalu oleh salah satu tv swasta. Sinetron itu memang bertemakan agama, tapi kok tidak tepat sasaran ya? seperti sinetron-sinetron lain yang mengatasnamakan remaja, tapi malah mendidik mereka tidak bersikap seharusnya menurut umur. Memang, KPI telah nengingatkan bahkan melarang beberapa sinetron yang dinilai tidak sesuai, yahh tapi tetap saja--mungkin rumah produksi tidak ingin membuang-buang anggaran untuk merubah cerita yang sudah terlanjur dibuat. Ini hanya pendapat saya sebagai orang awam, yang sedikit banyak mengamati perubahan sinetron dari tahun ke tahun walaupun tidak menggilai satu jenis sinetron.

Entah kenapa, makin ke sini sinetron Indonesia semakin nggak jelas (walaupun dari dulu memang sudah begitu). Seakan-akan orang Indonesia itu kejam, sukanya main kekerasan, pendendam, seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya lalu membuangnya begitu saja di jalanan, seorang suami yang dengan entengnya berselingkuh meninggalkan seorang istri dan (katakanlah) dua orang anak berpenyakitan di rumah. Apakah orang Indonesia semuanya seperti itu? Jika sedang marah, harus memelototkan mata sambil mengertakkan gigi lalu bersuara keras dalam hati? Sedikit-sedikit menampar, sedikit-sedikit memaki, sedikit-sedikit mengusir dari rumah. Sekejam itukah?

Lebih bahaya lagi jika sinetron-sinetron itu ditonton oleh anak-anak yang masih harus dibina oleh orang tua, tapi tanpa pengawasan. Mereka bisa menyerap hal apa pun, mentah-mentah, tanpa pengertian atau bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Dampaknya?


  1. Diajarin buat mikir berat soal cinta. Bagaimana tidak? Di salah satu sinetron yang saya tonton semalam, anak SMA yang sudah pacaran, cowoknya diajak tinggal serumah (walaupun ada ayah ceweknya, dan juga diberi fasilitas-fasilitas). Coba kalau itu saya? Sudah dihajar bapak dan yang paling kejam, mungkin nggak bakal dianggap anak lagi.
  2. Pacaran itu boleh lebih dari sekadar pegangan tangan. Dulu, boro-boro pegangan tangan, mau ketemuan aja mesti malu. Harus ngajak teman buat nemenin, biar kesannya lebih berani.
  3. Nggak usah sayang sama binatang, buat apa? Yap, di salah satu sinetron bahkan kelinci dimakan, dengan berdarah-darah. Selain nggak sayang binatang, secara tidak langsung itu mengajarkan kekerasan atau mempertontonkan scene yang menurut saya agak berlebihan. Ini bukan film, ini sinetron yang tayang setiap hari. Dengan demikian, kesempatan para remaja yang menyaksikannya pun terbuka lebar.
  4. Ayo, nge-bully teman-teman yang tidak mampu, cacat, miskin, atau jelek! Hampir di semua sinetron, selalu saja ada adegan pem-bully-an, entah itu anak orang kaya ke orang miskin, yang cantik terhadap yang jelek, atau yang pintar ke yang bodoh. Kalau sudah begini, peran orang tua atau orang-orang yang lebih paham sangat dibutuhkan. Kita pasti nggak mau kan anak kita, atau keponakan, atau saudara jadi korban pem-bully-an atau malah pelaku pem-bully-an?
  5. Nggak usah belajar, cinta itu yang lebih penting! Ceritanya aja pemeran-pemeran di sinetron itu memakai seragam, ceritanya aja mereka ke sekolah, tapi ujung-ujungnya memikirkan bagaimana menggaet cowok cakep, atau cewek cantik. Seharusnya, untuk para remaja, pendidikan masih yang terpenting. Cinta itu urusan nanti. Kalau memang kita sudah layak, pasti suatu saat akan bertemu cinta sejati. Yang penting, meniti masa depan dulu. Nggak mungkin kan makan cuma pakai cinta? :-)
  6. Siapa sih orang tua itu? Nggak usah deh hormat segala. Nah, di beberapa sinetron pasti ada kan adegan seorang anak yang sukanya ngelawan orang tua. Pake ngancem buat ngacir dari rumah. Padahal orang tua itu sosok yang harus kita hormati, bukan dilawan atau dicaci maki. Siapapun orang tua kita, kita tidak bisa protes. Kita tidak bisa mengeluh pada Tuhan untuk menggantikan siapa keluarga kita, siapa orang tua kita. Seburuk apa pun orang tuamu, pasti ada hal-hal yang bisa dipetik dari segala kejadian.
  7. "Kita kan kelompok kaya, ngapain lo di sini? Ga cocok banget jalan sama kita. Lo kan miskin!" Sering kan kalian mendengar percakapan seperti ini? Secara gak langsung mengajarkan kita, terutama kaum remaja, untuk membeda-bedakan. Yang kaya cirinya seperti ini, yang miskin seperti itu, yang pintar, yang bloon, yang cacat, dst. Cenderung juga mengajarkan anak-anak untuk tidak bisa berteman apa adanya. Mereka akan menjaga jarak saat tahu salah satu teman tidak sesempurna mereka. Yaahh, paling ekstrim sih mem-bully.
  8. Oh, jadi ke sekolah tuh gak apa-apa ya pake rok mini, lipstik, make up berlebihan. Di daerah saya, waktu itu jamannya lagi tenar Pernikahan Dini. Tau kan gimana gaya Agnes kalau bersekolah? Kaos kaki panjang, rok di atas lutut, pakai make up, dan seterusnya, dan seterusnya. Nah, hampir sebagian siswinya kalau bersekolah slalu bergaya seperti itu (untung saja saya tidak karena termasuk cupu dulu di sekolah). Dengan dua kancing teratas dibuka, kerah ditegakkan (layaknya petugas-petugas klab malam), sedikit polesan make up, kaos kaki panjang, rok seragam yang cukup pendek, lengan seragam yang digulung. Sudah kebayang, kan, seperti apa mereka kalau bersekolah?

Walaupun memang ada beberapa sinetron yang mendidik, tetap saja peranan orang tua atau orang yang lebih paham tetap dibutuhkan. Sedikit banyak pergaulan dan cara hidup para remaja dipengaruhi lingkungan, salah satunya sinetron. Semoga dengan begini kita lebih bisa mawas diri, terutama terhadap anak-anak kita :)


Tuesday, January 28, 2014

Kisah Ayah



Sebuah surga kecil yang terletak di sebelah selatan perairan Laut Sawu, menjadi tempat bernaungku selama belasan tahun sebelum aku akhirnya hijrah ke Kupang, NTT untuk memulai karir dalam kehidupanku. Lima puluh tujuh tahun yang lalu, aku dilahirkan di sebuah rumah kecil berdindingkan batang bambu yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kami tidak kepanasan dan kehujanan.

Selama beberapa lama aku hidup bersama keluarga dalam kesederhanaan dan kedisiplinan yang tinggi yang diterapkan oleh ayah. Namun, hidup di daerah yang kekurangan air, kekeringan yang melanda hampir setiap tahun karena curah hujan yang rendah, dan juga penghasilan yang pas-pasan sebagai seorang guru untuk memberi makan enam mulut, memaksa ayah untuk menitipkanku pada seorang paman, saudara ayah, yang tinggal di bagian timur Sabu bernama Bolou. Umurku waktu itu lima tahun. Sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, aku menurut saja apa kata ayah walaupun ingin sekali bertanya, “Kenapa kita harus hidup terpisah?”.

Hidup bersama saudara ayahmu bukan berarti kau bisa makan dan tidur seenaknya. Tubuhku yang kecil ini mau tidak mau harus bekerja untuk membantu paman. Dia memang seorang Kepala Sekolah yang tidak memiliki anak, namun bukan berarti aku hanya berpangku tangan dan berpura-pura tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Jam lima pagi, aku sudah harus bergegas memikul air dari mata air ke rumah menggunakan haik[1] untuk kebutuhan sehari-sehari seperti minum dan menanak nasi. Segera setelah pekerjaan itu selesai, aku kemudian menuju ke pemandian umum, Lokoimada, untuk menyegarkan tubuh sesaat sebelum ke sekolah. Setiap hari rutinitas ini kujalankan tanpa mengeluh, tanpa putus asa ataupun mencaci maki pamanku sendiri. Tidak! Beliau sudah begitu baik menampungku di rumahnya. Aku tinggal bersamanya selama enam tahun, sebelum akhirnya kembali kepada keluargaku pada tahun 1968 untuk melanjutkan pendidikan di SMP 409 Seba.

Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan menuju ke sebuah sekolah dasar negeri kecil yang tidak memiliki meja dan kursi sebagai alas untuk duduk dan menulis. Meja kami hanya terbuat dari pelepah kelapa yang diikat serta dirangkai sedemikian rupa. Batu tulis berperan sebagai satu-satunya buku untuk mencatat setiap pelajaran yang kami dengar dan perhatikan. Jika batu tulis itu sudah penuh terisi oleh tulisan kami, maka kami harus menghapusnya untuk menuliskan kalimat yang baru lagi. Begitu seterusnya. Memang, fasilitas yang kami miliki sangat terbatas atau bahkan tidak ada. Namun, itu tidak menjadi alasan utama bagi kami, apalagi aku, untuk menyerah dalam menuntut ilmu.

Pada bulan Desember 1972, aku harus keluar dari Sabu dan pindah ke kota Kupang dikarenakan daerah asalku tidak memiliki gedung SMA beserta fasilitasnya sama sekali. Bersyukurlah kalian karena jaman sekarang telah diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu, tidak seperti jamanku dulu. Ayah menemaniku menyeberangi Laut Sawu dengan kapal laut AE 007 menuju kota Kupang. Di sana, aku tinggal bersama saudara kandung ayah yang adalah seorang polisi.

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa hidup bersama saudara ayahmu tidak semulus seperti kau menginap di hotel. Selalu ada pekerjaan yang harus kau lakukan untuk sekedar menumpang hidup dan tinggal. Membersihkan halaman, mencuci piring bahkan mengurus minuman, makanan dan kandang kuda harus kulakukan sebagai bentuk terima kasih dan juga hormat karena telah bersedia menerimaku di rumahnya. Ketika harus merawat kuda di kandangnya hingga malam, aku membawa serta beberapa buku pelajaran untuk di baca di sana di bawah lampu yang temaram. Aku tidak ingin mengenal kata lelah karena telah beraktifitas seharian. Bagiku, belajar adalah salah satu tonggak keberhasilanku di masa depan. Aku tidak mau berhenti dan tidak akan pernah berhenti.

Setelah menamatkan SMA, aku memutuskan untuk masuk ke sekolah pemerintahan sebagai satu-satunya jalan dan pilihan untuk merajut masa depan, membahagiakan kedua orang tua dan membangun daerah asalku. Ketika tamat dari sekolah ini pada tahun 1980, aku tidak langsung ditempatkan di kota besar begitu saja. Masih banyak jalan dan proses yang harus aku lalui untuk bisa sesukses sekarang ini. Kau tahu? Di NTT masih terdapat banyak desa terpencil dengan akses terbatas dan di situlah aku ditempatkan untuk pertama kalinya, tepatnya di desa Baulo. Tempat ini terletak 70 km dari pusat kota Atambua dan untuk menjangkaunya, aku harus berjalan kaki serta menyeberang Sungai Lakaan.

Kemudian, selama tahun 1982-1985, aku ditugaskan di daerah baru yang terletak di Adonara Timur, NTT, dan di sinilah aku  banyak  mendapatkan pelajaran berharga dari masyarakat sekitar. Walaupun harus tinggal di balai serba guna yang kosong dengan swadaya sendiri, tapi aku bahagia bisa mengenal dan duduk di tengah-tengah mereka. Bercakap-cakap sambil menikmati loma ayam[2] dan minum dari satu neak[3] sebagai lambang persahabatan dan persaudaraan, aku bisa mendengar pelbagai keluh kesah mereka.

Aku bersyukur pada Tuhan ketika tahun 1986, aku diberikan kesempatan untuk melanjutkan program sarjana di sebuah institut pemerintahan di Jakarta. Di tempat ini jugalah, aku bertemu dengan seorang wanita cantik yang kini sudah mendampingiku selama dua puluh empat tahun dan memberiku tiga bidadari cantik.

Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 1989, jalan seolah-olah terbuka lebar untukku. Karirku berkembang pesat. Aku, yang dulunya hanyalah seorang anak dari keluarga seorang guru yang pas-pasan, kini mendulang kesuksesan yang tiada terkira. Aku tidak pernah mempermasalahkan berapa penghasilan yang kudapat sebagai ukuran kesuksesan, tetapi perjuangan, tekad, doa dan peluh keringat yang bercucuran adalah tolak ukur kesuksesan seseorang. Bila kau mau berusaha untuk sukses, untuk meraih mimpimu, lakukanlah yang terbaik dan segalanya bisa terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa jalan untuk menuai sukses penuh kerikil dan terjal. Terlepas dari itu, yang kamu butuhkan adalah kegigihan dan semangat juang yang tinggi.

Mungkin, aku bukan Pattimura, Imam Bonjol, atau Presiden Soekarno yang menjadi pahlawan demi mempertahankan keutuhan RI tercinta . Tapi aku cukup berbangga diri karena dengan diberikannya kesempatan untuk kembali menjadi seorang abdi negara di daerah asalku, aku ingin menjadi pribadi yang memiliki peranan penting untuk memajukan setiap sendi kehidupan di sana. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk mengenalkan surga kecil ini pada setiap orang sebelum masa tugasku selesai. Ya, surga kecil di pelosok Tanah Air yang harus kau kunjungi bila ada kesempatan.
***



[1] Wadah penampungan air yang terbuat dari daun lontar
[2]  Ayam yang dikukus dalam bambu dan dicampur bumbu
[3] Tempat minum air lontar yang terbuat dari tempurung kelapa