Sore kemarin, di dalam kamar lebih tepatnya, saya sedang duduk sambil menikmati semilir angin buatan (baca: AC). Iseng-iseng saya mencoba menonton salah satu TV swasta. Yeah, biasalah di sore hari (mulai jam 5) hingga malam hari (kurang lebih hingga jam 9 malam) berbagai tv swasta berlomba-lomba menayangkan program unggulan masing-masing, walaupun beberapa di antaranya menayangkan acara yang, maaf, tidak terlalu mendidik.
Nah, sore itu saya menyaksikan sinetron yang memang baru diproduksi beberapa hari lalu oleh salah satu tv swasta. Sinetron itu memang bertemakan agama, tapi kok tidak tepat sasaran ya? seperti sinetron-sinetron lain yang mengatasnamakan remaja, tapi malah mendidik mereka tidak bersikap seharusnya menurut umur. Memang, KPI telah nengingatkan bahkan melarang beberapa sinetron yang dinilai tidak sesuai, yahh tapi tetap saja--mungkin rumah produksi tidak ingin membuang-buang anggaran untuk merubah cerita yang sudah terlanjur dibuat. Ini hanya pendapat saya sebagai orang awam, yang sedikit banyak mengamati perubahan sinetron dari tahun ke tahun walaupun tidak menggilai satu jenis sinetron.
Entah kenapa, makin ke sini sinetron Indonesia semakin nggak jelas (walaupun dari dulu memang sudah begitu). Seakan-akan orang Indonesia itu kejam, sukanya main kekerasan, pendendam, seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya lalu membuangnya begitu saja di jalanan, seorang suami yang dengan entengnya berselingkuh meninggalkan seorang istri dan (katakanlah) dua orang anak berpenyakitan di rumah. Apakah orang Indonesia semuanya seperti itu? Jika sedang marah, harus memelototkan mata sambil mengertakkan gigi lalu bersuara keras dalam hati? Sedikit-sedikit menampar, sedikit-sedikit memaki, sedikit-sedikit mengusir dari rumah. Sekejam itukah?
Lebih bahaya lagi jika sinetron-sinetron itu ditonton oleh anak-anak yang masih harus dibina oleh orang tua, tapi tanpa pengawasan. Mereka bisa menyerap hal apa pun, mentah-mentah, tanpa pengertian atau bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Dampaknya?
- Diajarin buat mikir berat soal cinta. Bagaimana tidak? Di salah satu sinetron yang saya tonton semalam, anak SMA yang sudah pacaran, cowoknya diajak tinggal serumah (walaupun ada ayah ceweknya, dan juga diberi fasilitas-fasilitas). Coba kalau itu saya? Sudah dihajar bapak dan yang paling kejam, mungkin nggak bakal dianggap anak lagi.
- Pacaran itu boleh lebih dari sekadar pegangan tangan. Dulu, boro-boro pegangan tangan, mau ketemuan aja mesti malu. Harus ngajak teman buat nemenin, biar kesannya lebih berani.
- Nggak usah sayang sama binatang, buat apa? Yap, di salah satu sinetron bahkan kelinci dimakan, dengan berdarah-darah. Selain nggak sayang binatang, secara tidak langsung itu mengajarkan kekerasan atau mempertontonkan scene yang menurut saya agak berlebihan. Ini bukan film, ini sinetron yang tayang setiap hari. Dengan demikian, kesempatan para remaja yang menyaksikannya pun terbuka lebar.
- Ayo, nge-bully teman-teman yang tidak mampu, cacat, miskin, atau jelek! Hampir di semua sinetron, selalu saja ada adegan pem-bully-an, entah itu anak orang kaya ke orang miskin, yang cantik terhadap yang jelek, atau yang pintar ke yang bodoh. Kalau sudah begini, peran orang tua atau orang-orang yang lebih paham sangat dibutuhkan. Kita pasti nggak mau kan anak kita, atau keponakan, atau saudara jadi korban pem-bully-an atau malah pelaku pem-bully-an?
- Nggak usah belajar, cinta itu yang lebih penting! Ceritanya aja pemeran-pemeran di sinetron itu memakai seragam, ceritanya aja mereka ke sekolah, tapi ujung-ujungnya memikirkan bagaimana menggaet cowok cakep, atau cewek cantik. Seharusnya, untuk para remaja, pendidikan masih yang terpenting. Cinta itu urusan nanti. Kalau memang kita sudah layak, pasti suatu saat akan bertemu cinta sejati. Yang penting, meniti masa depan dulu. Nggak mungkin kan makan cuma pakai cinta? :-)
- Siapa sih orang tua itu? Nggak usah deh hormat segala. Nah, di beberapa sinetron pasti ada kan adegan seorang anak yang sukanya ngelawan orang tua. Pake ngancem buat ngacir dari rumah. Padahal orang tua itu sosok yang harus kita hormati, bukan dilawan atau dicaci maki. Siapapun orang tua kita, kita tidak bisa protes. Kita tidak bisa mengeluh pada Tuhan untuk menggantikan siapa keluarga kita, siapa orang tua kita. Seburuk apa pun orang tuamu, pasti ada hal-hal yang bisa dipetik dari segala kejadian.
- "Kita kan kelompok kaya, ngapain lo di sini? Ga cocok banget jalan sama kita. Lo kan miskin!" Sering kan kalian mendengar percakapan seperti ini? Secara gak langsung mengajarkan kita, terutama kaum remaja, untuk membeda-bedakan. Yang kaya cirinya seperti ini, yang miskin seperti itu, yang pintar, yang bloon, yang cacat, dst. Cenderung juga mengajarkan anak-anak untuk tidak bisa berteman apa adanya. Mereka akan menjaga jarak saat tahu salah satu teman tidak sesempurna mereka. Yaahh, paling ekstrim sih mem-bully.
- Oh, jadi ke sekolah tuh gak apa-apa ya pake rok mini, lipstik, make up berlebihan. Di daerah saya, waktu itu jamannya lagi tenar Pernikahan Dini. Tau kan gimana gaya Agnes kalau bersekolah? Kaos kaki panjang, rok di atas lutut, pakai make up, dan seterusnya, dan seterusnya. Nah, hampir sebagian siswinya kalau bersekolah slalu bergaya seperti itu (untung saja saya tidak karena termasuk cupu dulu di sekolah). Dengan dua kancing teratas dibuka, kerah ditegakkan (layaknya petugas-petugas klab malam), sedikit polesan make up, kaos kaki panjang, rok seragam yang cukup pendek, lengan seragam yang digulung. Sudah kebayang, kan, seperti apa mereka kalau bersekolah?
Walaupun memang ada beberapa sinetron yang mendidik, tetap saja peranan orang tua atau orang yang lebih paham tetap dibutuhkan. Sedikit banyak pergaulan dan cara hidup para remaja dipengaruhi lingkungan, salah satunya sinetron. Semoga dengan begini kita lebih bisa mawas diri, terutama terhadap anak-anak kita :)
No comments:
Post a Comment