Wednesday, November 12, 2014

Mendung Kali Ini...

Kami sudah beranjak dewasa. Bukan lagi seorang gadis kecil yang memainkan boneka di teras rumah atau bermain rumah-rumahan bersama teman lainnya. Kami sudah cukup sibuk sekarang. Waktu terasa berputar sangat cepat, menyisakan sangat sedikit kesempatan bagi kami untuk bertatap muka.

Masih jelas di ingatan bagaimana dulu sewaktu kecil, kami bermain, berlari-larian--sebut saja sedang mengejar kupu-kupu cantik yang berhenti sebentar di kelopak bunga mawar. Kupu-kupu itu cantik, berwarna kuning, tapi bila dipegang bagian sayapnya bisa terasa serbuknya yang menempel di ujung telunjuk dan ibu jari. Kami masih suka menciprat-cipratkan air bila mandi bersama di halaman belakang rumah yang berpagar alami dan tinggi.

Jika malam tiba, seusai 2 jam belajar yang melelahkan, aku berteriak "ayo main petak umpet", suatu kode atau sinyal untuk mengumpulkan teman-teman sekompleks. Setelah kami berkumpul, aku, adikku, dan teman-teman mulai saling menunjuk siapa yang "berjaga di pos sembunyi" untuk pertama kali, sedangkan lainnya mencari tempat persembunyian yang teramat sulit. Yah, kami sangat menikmati masa-masa itu. Masa-masa pekerjaan bukan menjadi beban utama kami, atau memiliki kekasih bukan tujuan lain kami. Kami hanya tahu dua hal: belajar dan bermain. Itu tugas utama kami.

Ketika hari hujan. walaupun aku membawa payung, payung itu tidak kubuka. Aku ingin bermain bersama dia, menikmati hujan yang datang hanya beberapa lama di kota kecilku yang terbilang kering. Hingga tubuh kami basah, hingga kami sakit dan dimarahi ibu habis-habisan. Dan kami benar-benar menyukai hujan karena bisa menjadi alasan utama untuk tidak berangkat sekolah. Kebetulan  sekolah kami suka kebanjiran jika musim hujan datang. Di dekatnya semacam ada selokan besar tempat menampung air dan bila hujan akan meluap sehingga kami harus siap sedia dengan membawa sandal jepit.

Kini kami sudah beranjak dewasa. Kami mulai mengerti apa itu cinta dan bagaimana rasanya patah hati, bagaimana ditinggalkan dan meninggalkan orang terkasih, bagaimana rasanya kabar kehidupan dan kematian yang datang silih berganti. Kami mulai berpikir bagaimana caranya untuk mempertahankan kehidupan bilamana sandaran kami tidak lagi mendukung kami. Kami mulai memperhitungkan apa yang harus diperbuat dan apa yang harus dijauhi. Kami sudah mulai mengerti bagaimana kehidupan itu seharusnya berjalan.

Kesibukan yang kini tengah menghanyutkan kami, membuat masing-masing sudah lagi--hampir--tidak menanyakan kabar. Kesibukan membuat kami tidak lagi punya cukup waktu untuk bersama. Memang kami tetap bersama di bawah satu atap, tapi seolah-olah kami hanya numpang tidur. Seperti hotel saja. Lalu pagi-pagi sekali kami bangun untuk mencari sebongkah berlian. Kami yang dulu, yang bisa membagi waktu untuk belajar, bermain, dan tidur, kini sudah tak lagi bisa melakukannya. Kebanyakan waktu ini dihabiskan untuk memaksa tubuh memuaskan dahaga kebutuhan kami. 

Jujur, dalam hati masing-masing, kami merindukan tawa bersama, tawa yang bukan milik sendiri. Kami rindu menangis bersama, bukan memendam rasa seolah-olah diri terlalu kuat untuk menampungnya. Kami rindu berjalan bersama, bukan berjalan sendiri seolah-olah tidak butuh teman di samping. Kami rindu berebut makanan, berebut pakaian, berebut sepatu. Dan mendung kali ini mengingatkanku pada dua adikku yang hanyut dalam kesibukan dan kegiatan mereka (termasuk aku). Memang kami masih dekat, masih seperti dulu, tapi kebersamaan itu yang perlahan-lahan hilang. Dan itulah kehidupan, itulah waktu.


No comments:

Post a Comment