Wednesday, November 12, 2014

Happy Father's Day: Ayah dan Kami

Pria itu gagah. Berdiri tegap memimpin jalannya upacara. Dibalut seragam safari biru tua, dia mengomando dengan suara lantang. Barisan manusia di depannya tak ada yang bergerak, khidmat mendengar suaranya yang cukup membahana, walaupun matahari tak hentinya memancarkan keperkasaan. Seusai upacara, barisan itu membubarkan diri dan segera menuju meja masing-masing untuk menunaikan tugas. Pria itu berjalan--masih dengan badan yang tegap--juga menuju ruangannya, duduk, dan mulai menggenggam pena. Ditandatanganinya berkas yang perlu dikoreksi. Keningnya berkerut bilamana mendapatkan kejanggalan dan bibirnya menyunggingkan senyum jika berkas tersebut sudah benar. Siang malam dia bekerja, tanpa mengeluh, tanpa meneriakkan kebosanannya. Meja dan segala berkas adalah saksi bisu bagaimana kerasnya dia menjalani hari.

Ayah, begitu kami memanggilnya, merupakan satu-satunya sosok dalam keluarga kecil ini. Kami semua perempuan--3 anak gadis dan 1 istri. Sebagian besar sosok ayah dikenal sebagai pribadi yang terbilang keras, sangat sangat sangat disiplin, dan kurang mengerti perasaan yang dimiliki anak gadisnya. Well, itu sama sekali tidak benar. Ayah kami adalah ayah yang penuh kasih. Walaupun sesekali kekerasan muncul dalam sosoknya, tapi dia tidak pernah sebegitu kejamnya terhadap kami. Jika Ibu marah dan mengomel, Ayah yang selalu menjadi tempat kami mengadu. Kami mengadu apa pun yang dilakukan Ibu terhadap kami, termasuk kata-katanya. Biasanya anak kecil selalu melebih-lebihkan agar tidak dimarahi atau dipukuli. Dan itu terjadi pula kepada kami. Namun, Ayah dengan bijaknya mengatakan kepada kami untuk memahami Ibu karena beliaulah yang melahirkan kami, yang "menggendong" kami selama sembilan bula. Jadi, tak sepantasnya kami marah atau berlaku kasar.

Dulu kami suka sekali jajan (sampai sekarang malah), suka sekali membeli baju, permainan, sepatu, dll. Kalau meminta upah atau duit ke Ibu, beliau pasti tidak akan memberi sehingga kami selalu mengatainya pelit. Lalu, kami akan berlari ke Ayah dan dengan entengnya meminta upah. Ayah, dengan tersenyum, kemudian memberikan beberapa lembar duit dan berpesan "Awas, nanti ibumu tahu." Makanya kami selalu meminta jajan pada Ayah karena dengan beliau, semuanya terasa lebih "gampang." Tak ayal aku pun sempat bercita-cita untuk membahagiakan ayah saja (Hahaha). Namun, ketika sudah dewasa, Ayah mulai menasihati kami perlahan-lahan. Katanya, "Ibu "pelit" karena dia adalah bendahara rumah tangga. Dia yang mengatur semua pengeluaran dan pemasukan anggaran. Jadi, wajar kalau Ibu "pelit."

Saat masih SD, jika waktu belajar di malam hari telah tiba (seingatku kami mulai belajar jam 7 malam), Ibu yang akan mengajari kami. Namun, kami merasa Ibu "terlalu galak" sebagai guru privat (Hahaha). Jadi, kami mulai ngambek dan tidak ingin diajari Ibu lagi. Alhasil, kami akan berlari pada Ayah dan memintanya untuk mengajari kami. Setidaknya Ayah lebih sabar dalam hal ini walaupun terkadang kami tidak mengerti apa yang diajarkan beliau. Sungguh! Beliau lebih cocok jadi PNS di belakang meja ketimbang jadi guru. Tapi Ibu juga terlalu galak untuk menjadi guru :p

Kembali lagi ke persoalan "Ibu yang pelit." Jika Ibu selalu memilih makanan yang sangat sangat sangat murah untuk dikonsumsi--dengan alasan penghematan uang--lain halnya dengan Ayah. Beliau pasti akan berkata, "Uang gak apa-apa habis untuk makanan. Itu lebih bagus daripada dihabiskan untuk belanja yang nggak penting dan yang bener-bener nggak dibutuhin." Kami sangat menyayangimu, Ayah :) :) :)

Kami sangat suka ketika beliau memanggil dengan sebutan "Nak", daripada memanggil hanya dengan nama. Suara beliau saat memanggil "Nak" terdengar sangat lembut, menyentuh, menyejukkan, dan penuh kasih. Ahh, aku ingin memeluk Ayah sekarang juga.

Beliau selalu mengajarkan kami untuk menjadi perempuan yang mandiri. Kelak menjadi seorang istri jangan membebankan suami. Setidaknya kami harus memiliki pekerjaan mapan untuk mencukupi kebutuhan kami dan tidak bergelayut manja di lengan suami karena suami juga memiliki beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai ayah, suami, dan kepala rumah tangga. 

Tapi jangan salah, Ayah kalau marah juga seram. Beliau kalau sudah mengatakan A pasti akan tetap A walaupun memang sih masih bisa dirubah kalau kita cukup cerdik merayunya (hehehe). Ayah juga merupakan seorang pribadi pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Juga merupakan seorang pribadi yang jujur. Sedikit bocoran. Dulu sempat ada proyek yang ingin melibatkan Ayah, yah tau sendirilah birokrasi di negeri ini. Ayah ingin dibayar dengan sejumlah uang yang tidak sedikit, tapi bersyukurlah karena dia dikelilingi oleh adik saya yang 'galak' saat mendengar berita itu. Tidak segan-segan dia memarahi Ayah agar tidak menerima proyek itu dan Ayah memang dari awal sudah berniat untuk tetap jujur. Sempat Ayah dan adik saya dikejar oleh penguntit tak dikenal (namanya juga penguntit) agar Ayah menerima proyek itu. Tapi Ayah tetap pada prinsipnya. Mungkin terdengar rohani, Ayah tidak mau menerimanya karena beliau takut Tuhan, beliau juga sayang keluarga. Well, bisa dibilang Ayah kami pemberani dan jujur.

Ayah, walaupun kami telah beranjak dewasa, kami sudah mulai tenggelam dalam kesibukan kami dan keriputmu mulai nampak, kami tidak akan pernah melupakanmu. Di saat tubuhmu mulai digerogoti penyakit misterius itu (pertama kali aku mendengarnya, aku menangis dalam doa) kami tetap menyayangimu. Semoga cepat sembuh Ayah dan harus sembuh, tidak boleh tidak. Ayah harus tertawa dan tertawa sampai nanti.

Ayah, walaupun kau tidak berada di dekat kami saat ini, jangan khawatir karena dalam ruang dan waktu kita selalu bersama.

Ayah, walaupun aku sering berbohong pergi ke gereja tapi nyatanya tidak, walaupun aku selalu takut mengabarimu bahwa tidak lolos dalam penerimaan karyawan ini dan itu, walaupun terkadang tidak nyaman saat kau mulai berbicara serius mengenai perjodohan, pekerjaan, dll, walaupun kita selalu bertengkar karena pendapat yang tak sama, walaupun terkadang kau keras padaku bilamana aku tak menurut perintahmu, kau selalu tetap di hati. Kaulah cinta pertama dan selamanya kami. Kaulah sosok lelaki yang tak pernah tergantikan dalam hati kami. 

Hari ini adalah hari ayah (meskipun di Indonesia tidak merayakan hari ayah) dan aku mendedikasikan tulisan terbuka ini untukmu. Meskipun kau tidak (mungkin tidak akan pernah) membacanya, aku senang pernah menuliskan ini tentangmu. Semoga kau sehat selalu di sana bersama Ibu, semoga kau tetap bahagia bilamana salah satu dari kami membangkang. Tetap menyayangi kami jika suatu saat sayang kami mulai memudar. Maaf jika kami selalu menyakitimu, selalu membuatmu menangis, dan terkadang membuatmu marah. Sekali lagi, dengan hati sekecil ini, kami ingin bilang kami menyayangimu :)

HAPPY FATHER'S DAY ^^




No comments:

Post a Comment