Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Wednesday, November 26, 2014

Sedikit Hal Penting untuk Menulis Novel


(http://www.woroni.com.au/wp-content/uploads/2013/07/Gus.jpg)



Saya tanya dulu deh, siapa yang suka novel? Tentunya hampir semua orang suka novel. Walaupun terkadang sebagian orang ada yang bilang "Ngapain sih baca novel? Ga mutu! Mending baca koran atau nonton berita." Eitss, jangan salah! Dari novel, kita bisa tahu kebudayaan suatu negara (kalau yang kamu baca itu novel terjemahan), sejarah indonesia atau bangsa-bangsa lain, dan masih banyak lagi ragam informasi yang bisa didapat dari sana. Dan untuk membuat sebuah masterpiece, tentu membutuhkan waktu, tenaga, dan juga yang paling penting riset. Gak mungkin kan sebuah novel masterpiece digarap tanpa adanya dukungan riset berupa data-data? walau novel ringan sekalipun.

Memang menulis dan menghasilkan satu judul novel merupakan kebanggaan tersendiri. Siapa sih yang nggak seneng melihat hasil karyanya nongol di rak-rak toko buku seluruh Indonesia? Belum lagi kalau novelmu booming dan diminta untuk mengadakan acara meet and great. Wow! Itu menakjubkan! Tapi, menulis novel bukan sekadar niat, waktu, dan tenaga. Seperti yang saya bilang tadi, novel yang baik nggak terlepas dari penelitian yang menghasilkan data-data sehingga karyamu bukan saja menarik di mata pembaca, tapi juga memperkaya wawasan mereka.

Selama bekerja di dunia percetakan dan penerbitan, kerap kali menemukan naskah novel yang menurut saya belum matang, tapi entah kenapa diterima begitu saja--yeah, well, kami tidak diajak dalam rundingan menentukan novel ini layak diterima atau tidak. Maaf, kalau sedikit curcol tapi memang itu kenyataannya. Jadi tim kami hanya menyunting naskah yang sudah masuk dan dinyatakan layak cetak oleh atasan. 

Kembali pada topik. Jadi, intinya novel-novel yang kami sunting masih sangat kurang dari unsur tema, konflik, pembentukan karakter, bahkan cerita. Ada beberapa novel yang tidak tahu ingin menceritakan apa, ingin menggambarkan apa di bagian prolog atau bab 1. Maaf, jika kasar, tapi sebagai penyunting saja kami sudah malas membacanya, apalagi pembaca itu sendiri?

Unsur-unsur intrinsik dalam novel sangat penting untuk diingat. Novel tidak hanya sekadar untaian kalimat lalu disusun menjadi cerita, kemudian dijilid dan blaamm dijual di toko-toko buku. Kalau novelmu tidak menarik, untuk apa kami membeli novel kedua, ketigamu, dst? Karena kami (pembaca) tidak bisa menjamin karyamu berikutnya akan lebih bagus atau lebih buruk.

Belakangan ini yang laris di pasaran adalah novel bertemakan Korea atau K-pop. Kebetulan saya baru saja selesai menyunting tiga novel sekaligus. Tentunya ketiga novel ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri (maaf, tidak bisa menyebutkan judul-judul novelnya karena sedang dalam proses cetak :D ). Novel pertama mengangkat tema kakak-adik (laki-laki dan perempuan) yang memiliki sifat serupa. Keduanya juga mengalami perasaan jatuh cinta dengan lawan jenis pada waktu bersamaan. Sayangnya judul sama sekali tidak mencerminkan isi novel yang lebih banyak menceritakan tentang tokoh adik, sedangkan si kakak hanya sebagai pelengkap. Juga konflik yang dibangun masih terlalu dangkal, sebatas permukaan saja. Saya bahkan tidak tahu konflik puncak seperti apa yang membuat kehidupan si adik carut-marut. Tiba-tiba saja dia sudah begini, tiba-tiba saja sudah begitu. Baiknya konflik dibuat dari awal cerita itu ditulis. Konflik-konflik kecil saja dulu, lalu dirangkai sehingga boommm! konflik puncaklah yang akan menentukan bagaimana cerita itu akan berakhir.

Novel kedua mengangkat tema ghost writer. Well, awalnya saya tertarik karena baru sekali ini menyunting novel dengan tema unik seperti itu. Tapi kemudian saya kecewa. Ya, ternyata jauh dari ekspektasi saya. Tema itu hanya pelengkap. Tema itu layaknya definisi semata yang dituang dalam beberapa paragraf, tapi tidak membangun karakter dan cerita. Tidak mencoba mengeksplor kehidupan penulis hantu, lika-likunya, kelebihan dan kekurangan, apa pun itu yang bisa memberi informasi pada pembaca, "Ohh, ternyata kerjaan ghost writer itu begini, begitu." Yeah, walaupun saya akui tetap ada bumbu-bumbu cinta. Tapi, bukan berarti mengesampingkan tema kan? Coba kalau novel itu diracik sedemikian rupa, pasti bakal lebih bagus. Saya berani jamin :)

Novel ketiga mengangkat tema cinta segitiga antara seorang cewek dengan kakak kelas dan tetangganya (yang merupakan cinta pertama cewek itu). Well, klasik sih tema cinta segitiga. Tapi dua jempol buat penulis ini (saya harap novel ini laku keras). Walau mengangkat tema pasaran, si penulis jago meramu perasaan yang dialami ketiga tokoh itu, kata-kata yang digunakan pun mengalir, tiga karakter utama sukses dibuatnya seolah-olah hidup, alur cerita gak bikin bosan, konfliknya pas banget, dan yang pasti tukang sunting ga perlu dibikin ribet (hahaha).

Jadi, buat kamu yang pengen nulis novel, pikir-pikir dulu deh. Nulis novel itu nggak gampang. Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan, semisal unsur instrinsik dan data-data. Karena kalau kamu asal menulisnya, jangan harap novelmu akan bertengger lama di rak pembaca. Bisa jadi sudah terselip entah di mana atau lebih parahnya lagi dijadikan bungkus kacang. Duh...


  1. Buatlah outline/kerangka sehingga kamu nggak melenceng dari jalur.
  2. Nggak apa-apa tema yang kamu angkat pasaran. Yang paling penting bagaimana kamu meraciknya sehingga tidak terlalu membosankan.
  3. Tema bukan pelengkap. Tema menuntunmu untuk mengeksplor keseluruhan isi dalam novelmu. Jadi, misalnya kamu mengambil tema dunia wartawan, bukan berarti kamu hanya mencantumkan definisi wartawan. Tapi bagaimana kamu menggambarkan dunia wartawan serta kesulitan dan hal apa saja yang dialaminya.
  4. Buat kalimat/paragraf pembuka pada prolog/bab 1 semenarik mungkin. Itu penting banget untuk menarik pembaca. Dari situ mereka bisa memutuskan apakah novelmu layak baca atau dibuang tidak sayang. Jadi, kalau kamu pengen novelmu lamaa banget bertengger di kamar pembaca, buatlah semenarik mungkin.
  5. Jangan berbelit-belit. Kadang-kadang penulis baru (ada beberapa penulis lama) masih bingung untuk menceritakan apa di bab-bab awal. Lebih baik, setelah kamu menulis bab 1 coba kasih ke temenmu, minta tolong dia untuk mengevaluasi sudah sejauh mana naskah yang kamu tulis. Apakah sudah bagus atau masih perlu beberapa perbaikan?
  6. Susun konflik mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling sukar, sehingga kamu punya bom waktu siap meledak yang akan membuat ceritamu semakin penasaran.
  7. Jangan membeberkan karaktermu hingga sedetail-detailnya. Biarkan pembaca yang menebak-nebak seperti apa pemeran utama novelmu. Itu lebih menarik ketimbang kamu membeberkan segalanya di bab 1.
  8. Dalami karaktermu. Buatlah dia seolah-olah hidup. Tokoh-tokoh adalah "manusia" yang hidup dalam novel. Tentunya juga butuh sifat-sifat manusia, kan? :)
  9. Ini penting!!! Beberapa naskah novel yang saya sunting menyisipkan kalimat-kalimat bahasa Inggris. Karakter-karakter yang dibangun merupakan seorang yang berpendidikan atau berasal dari luar negeri, tapi bahasa Inggris yang diucapkan? Jadi, secara tidak langsung saya disuruh untuk membetulkan ucapan-ucapan karakter. So, buat kalian yang pengen menyisipkan bahasa Inggris, alangkah baiknya konsultasi dulu sama kamus, buku grammar, bahkan buku structure.
  10. Mending pake bahasa Inggris, lha kalau pakai bahasa Korea? Waduh! Pernah beberapa kali saya menyunting naskah novel K-pop yang mana istilah bahasa Korea tidak dicantumkan artinya. Hellooo, saya orang Indonesia bukan Korea. Alhasil saya harus bolak-balik berkonsultasi sama Mbah Google.
  11. Jadi, penting bagi kalian untuk memerhatikan istilah/pengucapan bahasa asing.
  12. Judul dan isi novel harus sinkron! Bila di tengah cerita judul tak lagi mencerminkan isi, ada baiknya diganti. Bukan dibiarkan.
  13. Ingat! Novel bukan hanya sekadar buku berisi tulisan-tulisan tak bernyawa. Novel adalah kehidupan kedua di mana manusia-manusia fiktif berkeliaran. Buatlah novel yang benar-benar hidup, yang terasa nyata dalam pikiran pembaca.
Sepertinya itu dulu dari saya. Sekian dan terima kasih! ^_^

Monday, December 30, 2013

Review The Chocolate Chance Novel (Yoana Dianika)


The Chocolate Chance
Pahit Manisnya Kehidupan

Cinta masa lalu memang tidak mudah untuk dilupakan oleh sebagian orang. Terkadang, bayangannya bisa menjadi penghalang untuk memulai hubungan yang baru di masa depan. Hal ini sangat jelas diungkapkan oleh Yoana Dianika dalam novel terbarunya yang berjudul, The Chocolate Chance. Novel yang terdiri dari 346 halaman ini, mengisahkan tentang seorang gadis berusia dewasa muda, Orvala, yang mengalami berbagai permasalahan hidup, mulai dari kondisi ekonomi keluarganya hingga percintaannya dengan seorang senior yang bernama Juno di masa lalu dan Aruna di masa kini.
Novel ini menggunakan alur gabungan atau campuran di mana pembaca diajak untuk mengenang kembali kisah masa lalu dan juga kondisi masa kini yang dialami oleh tokoh utama. Setiap bab diawali dengan kutipan-kutipan baik dari kata-kata tokoh utamanya sendiri maupun dari tokoh-tokoh terkenal dunia. Kutipan-kutipan tersebut memiliki petunjuk dalam menggambarkan tiap kisah yang akan diceritakan pada bab tersebut. Misalnya:

I am a miser of my memories of you. And will not spend them” (hal. 105).

It has been shown as proof positive that carefully prepared chocolate is as healthful a food as it is pleasant; that it is nourishing and easily digested … that it is above all helpful to people who must do a great deal of mental work” (hal. 138).

Kata memories yang ditebalkan menggambarkan bahwa bab tersebut akan menceritakan masa lalu yang dialami oleh Orvala. Kejadian masa lalunya dapat berupa kisah cintanya bersama Juno, kebahagiaan dan penderitaan ekonomi yang harus dihadapi olehnya karena sang Ayah harus bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bagaimana orang tuanya pada akhirnya pergi untuk selama-lamanya meninggalkan Orvala sendirian menghadapi tantangan hidup, dan awal mula pertemuannya dengan Aruna, cinta masa depannya. Sedangkan, kata chocolate yang ditebalkan menggambarkan bahwa bab yang akan dibaca menceritakan kejadian-kejadian masa kini yang dialami oleh tokoh utama, seperti perasaan bahagianya saat bekerja di Fedde Velten Café yang seluruhnya bertemakan coklat, hubungannya dengan Aruna yang kini telah berjalan hampir dua tahun, dan dilemma yang akhirnya dirasakan oleh Orvala ketika Juno, cinta lamanya, datang untuk merebutnya kembali dari sisi Aruna.
            Melalui novel The Chocolate Chance, penulis ingin menegaskan beberapa hal. Pertama, penulis ingin menyampaikan bahwa seseorang mempunyai kekuatan untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya. Apakah ingin terus tenggelam dan terperangkap dalam cinta masa lalu atau mengukir masa depan dengan cinta yang baru, murni dan tulus? Orvala mengalami perasaan dilema yang hebat ketika Juno, sang mantan, kembali mengisi relung hatinya dengan segala perhatian dan peluk hangat yang diberikan. Di sisi lain, Orvala juga sangat mencintai Aruna yang merupakan kekasihnya saat ini. Aruna merupakan sosok lelaki yang hadir di saat Orvala sangat membutuhkan bahu untuk bersandar ketika ditinggal oleh Ibunya untuk selama-lamanya. Keberadaan sosok Aruna juga mampu mencairkan kebekuan hatinya yang telah dikecewakan oleh Juno, pergi tanpa sepatah katapun.
            Perasaan dilema yang dialami Orvala memuncak saat Fidel, sosok wanita yang pernah dicintai Aruna, hadir kembali di tengah-tengah mereka. Orvala merasa bahwa setelah bertemu Fidel, Aruna semakin sering berbohong. Beberapa kali dia melihat Aruna pergi bersama Fidel, akan tetapi dia tak ingin percaya begitu saja sampai suatu saat, ketika dia sedang berada di rumah Juno untuk membicarakan proyek Fedde Velten Café, dia melihat dengan mata kepala sendiri Aruna mengantar Fidel.
            Di lain pihak, Aruna merasa telah dibohongi oleh Orvala karena tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya bersama Juno yang adalah sepupunya sendiri. Namun, Aruna bukanlah sosok yang cepat naik pitam dan berlaku kasar. Dia tetap tenang dan menunggu hingga Orvala yang menceritakannya sendiri. Aruna dan Orvala, kedua pasangan ini tidak ingin berusaha untuk mencari kejelasan, tapi tetap tutup mulut dan berasumsi yang bukan-bukan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap saling jujur, saling terbuka satu sama lain dan saling percaya merupakan poin-poin penting dalam berhubungan. Ini adalah  poin kedua yang ingin ditunjukkan oleh penulis.
            Novel ini tidak melulu mengulas tentang percintaan segitiga, namun juga mengisahkan bagaimana seorang gadis seperti Orvala harus berjuang untuk hidup di tengah-tengah kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Orang tua yang digambarkan oleh penulis pun memiliki sifat yang bijaksana, tidak pernah mengeluh, sabar, dan penuh kasih. Ayahnya, walaupun telah dipecat dari pekerjaan sebagai juru masak restoran, tetap membanting tulang lebih keras lagi agar Orvala tidak putus sekolah. Berbagai nasehat sang Ayah dan Ibu menjadi pelita bagi Orvala untuk menapaki hidup.
“Ibu, apakah orang bebal dan menyebalkan seperti itu bisa berubah?” Suara Orvala meluruh.
Wanita berdaster ungu itu tersenyum. “Tentu saja. Pada dasarnya semua manusia terlahir baik, Vala.” (hal. 38).

Satu hal paling penting yang harus dijaga seorang wanita hanya satu, Vala. Kehormatannya.” Kalimat peneguran mendiang Ayah terngiang lagi di telingaku (hal. 196).


            Penulis sangat pandai dalam menggambarkan suasana dan kondisi kafe seolah-olah pembaca sedang memasuki ruang demi ruang dan menikmati interior-interior serta aksesoris yang dipajang. Istilah serta filosofi cokelat yang tertuang dalam novel ini pun juga sangat berguna dalam menambah pengetahuan pembaca. Cokelat bukan saja sekedar makanan ringan penghilang stress, namun juga memiliki rasa serta nilai tersendiri yang bisa dianalogikan dengan suatu tahapan atau tingkatan hidup yang dihadapi manusia.
“Fedde Velten Box adalah reminder. Tingkat sukses manusia itu berbeda-beda. Tapi, seberapa pun beda tingkat kesuksesan itu, semua masih bisa dinikmati. Sama seperti cokelat praline mini yang ada di dalam boks tersebut. Walaupun pahit tanpa gula, masih ada orang yang menyukai cokelat seperti itu. Dengan kata lain, kesuksesan manusia tidak bisa diukur secara mutlak. Semua relatif dan bergantung penilaian, kan, ya?” (hal. 57).

            The Chocolate Chance merupakan sebuah novel yang menggunakan cokelat sebagai suatu ‘pusat’ terjadinya segala cerita tentang kehidupan Orvala. Sang Ayah yang sangat menggilai cokelat dan selalu mengajarkan Orvala menyeduh minuman cokelat yang baik dan benar dengan penuh perasaan, Juno, sang kekasih masa lalu, yang juga sangat menyukai cokelat, dan Aruna, pemilik Fedde Velten Café, yang mempunyai cita-cita agar cokelat yang dibuat oleh kafenya bisa diproduksi secara besar-besaran dan dikenal luas oleh siapa saja dan di mana saja. Cokelat juga lah yang membuat hubungan Aruna dan Orvala semakin lama semakin dekat hingga berjalan selama dua tahun, dan mempertemukan kembali Orvala dan Juno.
Novel The Chocolate Chance mengumpamakan cokelat seperti hidup yang terkadang manis dan terkadang pahit. Bagaimana seseorang harus mampu mengambil hikmah serta pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dan setiap kejadian, baik indah maupun buruk, harus dihadapi bukan dihindari sambil tetap berusaha melakukan yang terbaik dan tidak pernah berhenti untuk mewujudkan mimpi walaupun terlihat mustahil dan tidak mungkin di mata orang lain.