Tuesday, June 17, 2014

Dreams

I’m dreaming everyone’s dream, not exactly mine.

Someone said, “Go! Get your dream now. Do not give up even the sky’s falling down.”

Nah, she must be wrong.

Which dreams?

Which dreams I should pursue?

Which dreams I should reach?

Whose dreams are, actually?

Me? Nah!

I used to have dreams, many dreams that I myself become tired just to think about them.

And suddenly they come!

They take my dreams!

They burn my dreams!

They said my dreams are nothing!

Just a burden, a burden for the whole family!

A burden for my future, too!

And here, in the corner of my world, I just sit and stare nothing.

My dreams are gone, faded away.

There is nothing I could hold.

My dreams are my life and since they are gone, I’m dying.

In minutes later, I’ll go to neither hell nor heaven.

I’m just burnt into pieces along with my dreams.

Morning

This is the morning where everyone puts their best make-up,

a smile on their face.

This is the morning where every student will fight for algebra.

This is the morning where every mother and wives will serve breakfast for husbands and children.

This is the morning where every father will conquer the day to make money.

This is the morning where graduate students will deal with their final assignment.

This is the morning where couples try to give their best to express their loves.

This is the morning where beggars must work harder to get money.

But, this is the same morning where I have to deal with endless problems.

Hope that midnight will stay forever, doesn't welcome the sun.

Tuesday, January 28, 2014

Kisah Ayah



Sebuah surga kecil yang terletak di sebelah selatan perairan Laut Sawu, menjadi tempat bernaungku selama belasan tahun sebelum aku akhirnya hijrah ke Kupang, NTT untuk memulai karir dalam kehidupanku. Lima puluh tujuh tahun yang lalu, aku dilahirkan di sebuah rumah kecil berdindingkan batang bambu yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kami tidak kepanasan dan kehujanan.

Selama beberapa lama aku hidup bersama keluarga dalam kesederhanaan dan kedisiplinan yang tinggi yang diterapkan oleh ayah. Namun, hidup di daerah yang kekurangan air, kekeringan yang melanda hampir setiap tahun karena curah hujan yang rendah, dan juga penghasilan yang pas-pasan sebagai seorang guru untuk memberi makan enam mulut, memaksa ayah untuk menitipkanku pada seorang paman, saudara ayah, yang tinggal di bagian timur Sabu bernama Bolou. Umurku waktu itu lima tahun. Sebagai seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa, aku menurut saja apa kata ayah walaupun ingin sekali bertanya, “Kenapa kita harus hidup terpisah?”.

Hidup bersama saudara ayahmu bukan berarti kau bisa makan dan tidur seenaknya. Tubuhku yang kecil ini mau tidak mau harus bekerja untuk membantu paman. Dia memang seorang Kepala Sekolah yang tidak memiliki anak, namun bukan berarti aku hanya berpangku tangan dan berpura-pura tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan.

Jam lima pagi, aku sudah harus bergegas memikul air dari mata air ke rumah menggunakan haik[1] untuk kebutuhan sehari-sehari seperti minum dan menanak nasi. Segera setelah pekerjaan itu selesai, aku kemudian menuju ke pemandian umum, Lokoimada, untuk menyegarkan tubuh sesaat sebelum ke sekolah. Setiap hari rutinitas ini kujalankan tanpa mengeluh, tanpa putus asa ataupun mencaci maki pamanku sendiri. Tidak! Beliau sudah begitu baik menampungku di rumahnya. Aku tinggal bersamanya selama enam tahun, sebelum akhirnya kembali kepada keluargaku pada tahun 1968 untuk melanjutkan pendidikan di SMP 409 Seba.

Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan menuju ke sebuah sekolah dasar negeri kecil yang tidak memiliki meja dan kursi sebagai alas untuk duduk dan menulis. Meja kami hanya terbuat dari pelepah kelapa yang diikat serta dirangkai sedemikian rupa. Batu tulis berperan sebagai satu-satunya buku untuk mencatat setiap pelajaran yang kami dengar dan perhatikan. Jika batu tulis itu sudah penuh terisi oleh tulisan kami, maka kami harus menghapusnya untuk menuliskan kalimat yang baru lagi. Begitu seterusnya. Memang, fasilitas yang kami miliki sangat terbatas atau bahkan tidak ada. Namun, itu tidak menjadi alasan utama bagi kami, apalagi aku, untuk menyerah dalam menuntut ilmu.

Pada bulan Desember 1972, aku harus keluar dari Sabu dan pindah ke kota Kupang dikarenakan daerah asalku tidak memiliki gedung SMA beserta fasilitasnya sama sekali. Bersyukurlah kalian karena jaman sekarang telah diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu, tidak seperti jamanku dulu. Ayah menemaniku menyeberangi Laut Sawu dengan kapal laut AE 007 menuju kota Kupang. Di sana, aku tinggal bersama saudara kandung ayah yang adalah seorang polisi.

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya bahwa hidup bersama saudara ayahmu tidak semulus seperti kau menginap di hotel. Selalu ada pekerjaan yang harus kau lakukan untuk sekedar menumpang hidup dan tinggal. Membersihkan halaman, mencuci piring bahkan mengurus minuman, makanan dan kandang kuda harus kulakukan sebagai bentuk terima kasih dan juga hormat karena telah bersedia menerimaku di rumahnya. Ketika harus merawat kuda di kandangnya hingga malam, aku membawa serta beberapa buku pelajaran untuk di baca di sana di bawah lampu yang temaram. Aku tidak ingin mengenal kata lelah karena telah beraktifitas seharian. Bagiku, belajar adalah salah satu tonggak keberhasilanku di masa depan. Aku tidak mau berhenti dan tidak akan pernah berhenti.

Setelah menamatkan SMA, aku memutuskan untuk masuk ke sekolah pemerintahan sebagai satu-satunya jalan dan pilihan untuk merajut masa depan, membahagiakan kedua orang tua dan membangun daerah asalku. Ketika tamat dari sekolah ini pada tahun 1980, aku tidak langsung ditempatkan di kota besar begitu saja. Masih banyak jalan dan proses yang harus aku lalui untuk bisa sesukses sekarang ini. Kau tahu? Di NTT masih terdapat banyak desa terpencil dengan akses terbatas dan di situlah aku ditempatkan untuk pertama kalinya, tepatnya di desa Baulo. Tempat ini terletak 70 km dari pusat kota Atambua dan untuk menjangkaunya, aku harus berjalan kaki serta menyeberang Sungai Lakaan.

Kemudian, selama tahun 1982-1985, aku ditugaskan di daerah baru yang terletak di Adonara Timur, NTT, dan di sinilah aku  banyak  mendapatkan pelajaran berharga dari masyarakat sekitar. Walaupun harus tinggal di balai serba guna yang kosong dengan swadaya sendiri, tapi aku bahagia bisa mengenal dan duduk di tengah-tengah mereka. Bercakap-cakap sambil menikmati loma ayam[2] dan minum dari satu neak[3] sebagai lambang persahabatan dan persaudaraan, aku bisa mendengar pelbagai keluh kesah mereka.

Aku bersyukur pada Tuhan ketika tahun 1986, aku diberikan kesempatan untuk melanjutkan program sarjana di sebuah institut pemerintahan di Jakarta. Di tempat ini jugalah, aku bertemu dengan seorang wanita cantik yang kini sudah mendampingiku selama dua puluh empat tahun dan memberiku tiga bidadari cantik.

Setelah menyelesaikan kuliah pada tahun 1989, jalan seolah-olah terbuka lebar untukku. Karirku berkembang pesat. Aku, yang dulunya hanyalah seorang anak dari keluarga seorang guru yang pas-pasan, kini mendulang kesuksesan yang tiada terkira. Aku tidak pernah mempermasalahkan berapa penghasilan yang kudapat sebagai ukuran kesuksesan, tetapi perjuangan, tekad, doa dan peluh keringat yang bercucuran adalah tolak ukur kesuksesan seseorang. Bila kau mau berusaha untuk sukses, untuk meraih mimpimu, lakukanlah yang terbaik dan segalanya bisa terjadi. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa jalan untuk menuai sukses penuh kerikil dan terjal. Terlepas dari itu, yang kamu butuhkan adalah kegigihan dan semangat juang yang tinggi.

Mungkin, aku bukan Pattimura, Imam Bonjol, atau Presiden Soekarno yang menjadi pahlawan demi mempertahankan keutuhan RI tercinta . Tapi aku cukup berbangga diri karena dengan diberikannya kesempatan untuk kembali menjadi seorang abdi negara di daerah asalku, aku ingin menjadi pribadi yang memiliki peranan penting untuk memajukan setiap sendi kehidupan di sana. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk mengenalkan surga kecil ini pada setiap orang sebelum masa tugasku selesai. Ya, surga kecil di pelosok Tanah Air yang harus kau kunjungi bila ada kesempatan.
***



[1] Wadah penampungan air yang terbuat dari daun lontar
[2]  Ayam yang dikukus dalam bambu dan dicampur bumbu
[3] Tempat minum air lontar yang terbuat dari tempurung kelapa

Monday, January 13, 2014

Kasih Ibu Sepanjang Masa


Wanita itu tak lagi muda. Kulitnya yang keriput membungkus tulangnya yang kini semakin rapuh. Rambutnya memutih, kusam serta kusut. Sesekali dia berjalan tergopoh-gopoh mengambil sisir plastik yang tak lagi sempurna bentuknya yang diletakkan di atas meja riasnya. Berusaha sekeras mungkin untuk melembutkan rambutnya yang kusut, agar tampil cantik walaupun hanya bisa dinikmati sendiri melalui cermin kayu kecil yang sudah usang.
Sesekali dia mencoba memoles bibirnya yang tak lagi semerah tomat, namun dihapus juga pewarna bibir itu. Dia merasa lucu sendiri. Dia sudah tua, siapa yang akan dia pikat? Suami telah meninggalkannya dua puluh tahun silam karena memilih wanita yang lebih subur, sedangkan putra satu-satunya? Tak ada kabar yang kunjung datang, memberitahukan masih hidup atau sudah bertemu Sang Pencipta. Wanita ini hanya bisa menghela napas, merenungi nasib, lalu kembali ke kasur menunggu senja menghilang lalu menuju ke dapur jikalau lapar. Selebihnya? Menunggu pagi untuk berjualan kerupuk agar setidaknya bisa makan sekali sehari.
***
 “Ibu tau kan aku gak suka tempe. Kenapa disajikan terus di meja? Ibu sengaja ya?” Putranya berteriak marah begitu mendapati lauk siang kali ini hanya nasi putih, tempe dan juga sayur kangkung. Dia berharap, sesampainya di rumah dari seharian menuntut ilmu di bangku sekolah menengah atas, setidaknya ada daging ayam goreng kesukaannya yang bisa disantap.
“Nak, maafkan ibu. Tapi kita gak punya uang lebih untuk membeli ayam. Ibu takut, kalau ibu menguras semua tabungan ibu hanya untuk sekilo daging ayam, kamu gak bisa sekolah nantinya.” Putranya hanya terdiam mendengar kata-kata wanita itu. Dengan kasar dia mengambil piring dan sendok lalu mencoba menyantap lauk itu tapi lima menit kemudian, sendok dilempar dan dia berlari meninggalkan rumah dengan kesal. Wanita itu hanya bisa mengelus dadanya. Berharap, suatu saat nanti putranya akan mengerti kenapa dia harus melakukan semua ini. Bagi wanita itu, pendidikan adalah yang terpenting. Dia ingin anaknya sukses agar tidak harus mengenyam kehidupan seperti ini lagi.
“Ibu nyaman ya hidup seperti ini?” Putranya bertanya suatu ketika. Wanita itu mengerutkan keningnya yang memang sudah mulai keriput karena begitu banyak beban yang harus dia tanggung sepeninggal suaminya.
“Maksudmu, Nak?”
“Ya aku heran aja. Ibu sepertinya nyaman sekali hidup dengan kemiskinan ini. Ibu gak mau berusaha untuk hidup makmur, kaya, punya rumah mewah.”
“Nak, kita bisa makan tiga kali sehari saja sudah sangat bersyukur. Ibu bisa nyekolahin kamu sampai jenjang SMA udah merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan. Lantas buat apa kita harus iri dengan kehidupan orang? Sementara kita tidak bisa bersyukur dengan kehidupan yang sedang dijalani.”
“Ibu ini gimana sih? Di mana-mana, orang yang miskin itu pengen hidup kaya, pengen sukses biar gak teraniaya lagi. Ehhh.. Ibu malah nyuruh aku bersyukur. Aku bersyukur untuk apa? Untuk rumah reyot ini? Untuk tempe yang hampir setiap hari aku makan? Untuk sepatu yang sudah berlubang sana-sini? Untuk apa, Bu?” Putranya mengepalkan tangan. Terlihat dia begitu marah dengan sikap ibunya yang seolah-olah tidak ingin merubah nasib.
“Nak, Ibu bukannya gak mau merubah nasib. Tapi Ibu bisa apa? Ibu cuma tamatan SMP. Tapi setidaknya Ibu gak nganggur nyuruh kamu yang kerja, gantiin Ibu. Ibu mau bersusah payah mencuci baju orang untuk makan kamu sehari-hari, untuk membelikanmu seragam baru. Ibu tau, Ibu gak bisa ngasih kamu apa-apa seperti ketika masih ada Ayahmu. Ibu gak bisa beliin ayam, Ibu gak bisa beliin sepatu baru, tapi Ibu ikhlas membanting tulang demi kamu supaya jangan jadi seperti Ibu, yang cuma tamatan SMP. Supaya kamu yang merubah nasibmu, bukan Ibu. Dan kamu seharusnya bersyukur memiliki Ibu yang sangat sayang dan peduli sama kamu. ” Wanita itu berusaha untuk tidak terlihat rapuh di depan anaknya tapi air mata seperti tak menuruti kehendaknya. Menetes sedikit demi sedikit dari kedua bola matanya yang sudah tak lagi berbinar.
“Sudahlah, aku capek bicara sama Ibu!” Putranya membanting pintu dapur begitu keras sebelum akhirnya berlalu dari hadapan wanita itu.
“Ya Tuhan, kuatkanlah hamba. Jangan Kau keraskan hati anakku, ya Tuhan. Hamba mohon, jadikanlah dia pribadi yang tahu mengucap syukur.” Wanita itu sekali lagi menangis, menangis sekeras-kerasnya karena tak ada satupun punggung ataupun bahu di mana dia bisa menyandarkan kepalanya sejenak.
***
“Ibuuuuuuuuu… “
“Ada apa, Nak? Terjadi sesuatu sama kamu?” Ibunya lari terbirit-birit dari kamar mandi bak orang kesetanan. Dia mengira telah terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan terhadap putranya.
“Aku minta duit!” Putranya menyodorkan tangan kanannya ke arah sang ibu yang baru saja selesai mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
“Duit? Buat apa, Nak?”
“Besok Desta ulang tahun dan dia mengundang kami semua ke pestanya. Dia bilang, kami semua harus tampil cantik dan tampan karena bakal banyak banget orang penting yang hadir di sana. Ibu mengerti kan?”
“Berapa yang kamu butuhkan?”
“Hmmmm.. aku pengen beli kemeja, celana sama sepatu. Ibu gak mau kan anak Ibu yang tampan ini terlihat kumuh di antara para ‘bangsawan’? Setidaknya, aku harus menyamai mereka.” Kata-kata putranya walaupun terlihat sepele, namun cukup membebani hati dan pikiran wanita paruh baya ini.
“Bu?” Putranya melambaikan tangan di wajahnya.
“Maaf, Nak, Ibu gak punya uang sebanyak itu. Mengapa tidak kau pakai saja kemeja peninggalan ayahmu? Ibu rasa kemejanya masih bagus dan cocok jika kamu pakai. Gimana?” Wanita itu tersenyum seperti telah menyumbangkan ide yang sangat bagus untuk anaknya. Tapi kenyataannya…
“Maksud ibu? Ibu nyuruh aku pake kemeja usang, bau kayak gitu? Enggak, bu. Aku mau kemeja, celana, sepatu yang serba baru. Kalau Ibu gak ngasih duit juga, aku akan mencuri sampai aku dapetin apa yang aku inginkan.”
“Nakkkkkk….” Wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat menyayangi putranya karena hanya dia satu-satunya harta berharga yang dimiliki. Dia sanggup kehilangan rumahnya, harta bendanya, tapi jangan sampai dia harus kehilangan putranya. Dan juga, lebih baik dia yang mencuri dan masuk penjara, karena dia tidak ingin melihat putranya kehilangan kesempatan serta masa depan cerah yang terbentang begitu luas untuknya. Kalaupun memang benar putranya suatu saat harus mencuri, dia akan menggantikannya di penjara. Putranya, anak semata wayangnya, yang harus dia jaga dan lindungi seumur hidup, tidak boleh satupun nasib buruk menimpa diri putranya. Cukup dia saja yang harus menanggung semua penderitaan ini. Dia sudah tua dan dia sudah tahu tujuan hidupnya. Biarlah sang putra berkelana mencari tujuan hidupnya.
Wanita itu berjalan lemas menuju kamarnya, membuka lemari, mengambil kotak kecil merah tempat menyimpan duit hasil kerja kerasnya, dan menyerahkan lebih dari setengah duitnya untuk dipakai putranya membeli apa yang dia inginkan. Senyum senang merekah begitu lebar di wajah putranya dan entah kenapa, walaupun sedih dan marah, wanita itu sangat terhibur melihat anaknya begitu bahagia. Lebih dari apapun, senyuman putranya merupakan obat penawar kesedihan yang paling manjur.
***
“Kamu kenapa merenung gitu, jeng? Brantem sama anakmu?” Tetangga wanita itu, berumur kira-kira dua tahun lebih tua darinya, datang menghampirinya ketika sedang menyapu halaman depan rumah.
“Enggak kok, jeng, aku gak brantem sama anakku. Aku cuma lagi mikir gimana caranya dapat tambahan uang? Aku tamatan SMP paling-paling cuma bisa jadi babu. Sedangkan, kebutuhan anakku makin hari makin meningkat. Adaaa saja yang dimintanya.” Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menyapu rumah. Tetangganya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan sesaat kemudian, dia menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.
“Kamu bisa nyanyi gak? Kebetulan, tempat suamiku bekerja sedang mencari penyanyi latar untuk mengiringi penyanyi utama. Kamu tertarik? Biar aku ngomong sama suamiku.”
“Maksudmu jadi penyanyi kafe? Dan kerjanya malam?”
“Ya, seperti itulah. Gimana?” Wanita itu terlihat ragu. Sesekali mengigit kuku jarinya. Memikirkan jikalau dia mengambil pekerjaan ini, apakah merupakan keputusan yang terbaik? Tapi jika tidak diambil, apakah dia sanggup membiarkan putranya tidak makan selama berhari-hari? Di samping itu, dia juga sangat ingin membelikan sepatu baru, seporsi ayam goreng kesukaan putranya dan memberikan apa pun yang putranya inginkan.
“Baiklah. Beri tahu suamimu, aku ingin mencoba pekerjaan itu.”
Sudah sebulan wanita itu menggeluti profesi barunya. Dari pagi pukul sembilan hingga pukul 12 siang, dia menjadi pembantu rumah tangga. Setelah itu, dia pulang ke rumah menyiapkan makan siang dan malam untuk putranya. Pada malam hari, ketika putranya sudah terlelap, kira-kira pukul sepuluh malam, dia pergi ke kafe bekerja sebagai penyanyi latar dan pulang dini hari pada pukul dua. Semua itu dilakukannya penuh sukacita karena dia ingin melihat senyum senang anaknya merekah lagi, seperti waktu itu. Putranya seakan tak peduli apa yang telah wanita itu perjuangkan dan korbankan. Yang dia tahu adalah seporsi ayam goreng kesukaannya tersaji di atas meja makan, sepasang sepatu baru yang sepertinya tampak mahal teronggok diam di depan pintu kamarnya dan sebuah tas baru yang digantung di belakang pintu kamarnya. Dan wanita itu, juga tidak berniat untuk mengatakan yang sejujurnya tentang profesi kedua yang sedang dijalaninya sekarang.
***
“Apa yang Ibu lakukan di kafe selama ini???” Wanita itu kaget ketika mendapati putranya pulang dalam keadaan marah.
“Aku dengar dari teman-temanku kalo Ibu sekarang nyanyi di kafe. Apa itu bener? Jawab bu!” Putranya menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu namun dia hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa. Selama ini dia berusaha menutupi pekerjaannya karena tidak ingin putranya malu, menanggung beban karena keputusannya. Bahwa dia juga berat pada awalnya ketika menerima pekerjaan ini namun, dia harus tetap maju demi putranya.
“Belum cukupkah kemiskinan yang kita miliki sekarang? Yang membuatku malu kalau bertemu Desta, Anton dan Fitra? Belum cukupkah Ibu sampai-sampai Ibu harus menjadi penyanyi kafe untuk membuatku malu?”
“Tidak, Nak. Ibu tidak pernah bermaksud membuatmu malu. Ibu hanya ingin membelikan ayam goreng kesukaanmu, sepatu baru juga apa pun yang kau inginkan. Ibu tidak ingin kamu begitu terpuruk dalam kemiskinan ini. Maafkan Ibu, Nak tapi sumpah demi Tuhan. Ibu tidak melakukan hal yang aneh-aneh di kafe seperti yang mungkin kamu bayangkan sekarang. Ibu ingat Tuhan dan juga kamu. Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“Tapi aku udah terlanjur malu, Bu. Mau taruh di mana mukaku ini? Ibu seneng ya kalau di sekolah aku diejek, dihina hanya karena ibuku penyanyi kafe?”
“Demi Tuhan, Nak. Makanan yang kamu makan berasal dari uang yang halal. Ibu gak pernah macam-macam. Percayalah sama ibu.” Wanita itu terisak-isak seraya memohon pengertian dari putranya. Namun, apa yang telah dialami putranya tidak mengijinkannya untuk memberikan sedikit belas kasih untuk ibunya. Hatinya tertutup begitu rapat.
“Maaf, Bu. Aku udah gak tahan hidup malu, miskin dan hina seperti ini lagi. Jangan lagi sebut namaku dan juga, jangan pernah mencari aku. Aku pergi!”
“Nakkkk… Jangan pergi, Nakkkkk.. Jangan tinggalkan Ibu. Ibu minta maaf. Ibu gak akan nyanyi lagi. Nak, jangan pergi nakkkkk… “ Apapun usaha yang dilakukan wanita itu untuk mencegah putranya pergi, sama sekali gagal. Anak itu tetap berlalu dari hadapannya. Tinggallah seorang wanita paruh baya yang menangis tersedu-sedu dan memukuli dirinya sendiri mengapa semua ini terjadi padanya. Dia sudah berusaha melakukan yang terbaik sebagai seorang ibu bagi putranya, namun semua itu sia-sia. Putranya pergi meninggalkannya.
***
Januari 2011…
“Nenek sudah makan? Ini, aku bawain semur jengkol kesukaan nenek.”
“Terima kasih ya, Nak. Kalo gak ada kamu, nenek gak tau udah jadi apa sekarang.”
“Sini, aku sisirin rambut nenek.” Wanita tua itu tersenyum lalu memberikan satu-satunya sisir plastik kesayangannya. Begitulah cerita tentang dia dan anaknya yang diceritakan padaku. Aku tidak percaya kenapa ada seorang anak yang begitu tega meninggalkan ibunya melarat dalam kesendirian dan kemiskinan. Aku mulai merawatnya kira-kira dua tahun yang lalu, ketika aku menyelamatkannya yang hampir saja ditabrak motor yang melaju dengan sangat kencang.
“Nenek lagi mikir apa?” aku bertanya sambil tetap mencoba melembutkan rambutnya yang kusam.
“Nenek tiba-tiba teringat Toni. Seperti apa ya dia sekarang? Sudah sukseskah dia? Sudah bahagiakah dia?” Aku hanya bisa terdiam. Memang, kasih ibu sepanjang masa. Walaupun putranya telah pergi begitu saja meninggalkan dia, tak satupun dia menyisakan semenit untuk membencinya. Kasihnya yang begitu besar mengalahkan segala rasa benci dan amarah yang mungkin saja pernah mampir di hati dan pikirannya.
“Kita doakan saja ya, Nek, yang terbaik buat dia.” Wanita itu mengangguk dan tersenyum hangat.
“Nenek kangen Toni.” Itulah kata-kata terakhir yang diembuskan pelan dari wanita tua itu sebelum akhirnya aku menyadari bahwa dia sudah tidak lagi menghuni dunia ini. Kupeluk tubuh yang sudah mulai mendingin itu dengan erat tapi aku tidak mau menangis. Tidak! Menangis tidak akan mengembalikan orang yang sudah tiada. Lalu, selembar kertas jatuh dari genggaman tangannya. Sepertinya sebuah surat.

Untuk Toni,
Semenjak kepergian ayahmu, Ibu merasa hampa, Ibu merasa tidak tahu harus berbuat apa. Ibu merasa sendirian. Namun, begitu melihatmu yang sedang mengunyah biskuit dengan gigi kecilmu, saat itu juga Ibu merasa punya alasan untuk hidup. Senyummu yang menguatkan Ibu sampai detik ini walau kau tak ada lagi untuk Ibu.
Ketika kamu mengeluh tentang tempe, tentang sepatu yang sudah bolong di sana-sini, tentang uang jajan yang tak pernah cukup, Ibu juga merasakan sakit, Nak. Ibu ingin melihatmu bahagia seperti anak-anak yang lain. Ibu ingin melihatmu tertawa lepas. Dan, Ibu ingin sesekali kau datang menghampiri untuk bilang “terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu.”. Betapa Ibu ingin mendengar itu semua, Nak. Betapa Ibu sangat menyayangimu melebihi jiwa dan raga.
 Kembalilah Nak. Maafkan Ibu.

Aku menarik napas. Wanita tua ini masih mengharapkan anaknya kembali ke dalam pelukannya. Memanggilnya Ibu dan mengecup keningnya. Mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka bisa berkumpul bersama.
“Jangan khawatir, Nek. Suatu saat nanti, kalau Toni telah kembali, akan kusampaikan surat ini.” Bisikku di telinganya.
END

Tuesday, December 31, 2013

Sahabatku, (Calon) Kekasihku


Siang itu, matahari cukup kejam menyinari kota pelajar ini. Berbagai merk kendaraan beroda dua dan empat memenuhi sisi jalanan dengan membunyikan klakson di kala warna lampu lalu lintas berganti dari merah ke hijau. Rupanya, tak satupun manusia yang ingin berlama-lama di bawah terik matahari. Semuanya ingin cepat sampai di tujuan, lalu menyejukkan diri menggunakan kipas angin, AC atau sekedar menyeruput segelas es teh untuk menyegarkan dahaga.
            Rasanya ingin sekali saat ini juga menghempaskan tubuh di kasur empuk berselimutkan bed cover warna biru itu, memakan ice cream lalu menonton drama Korea favorit. Bahagia itu sederhana, teman! Namun, apa yang terjadi? Impian itu pupus tatkala Cella harus bersabar menunggu Dona yang sudah hampir dua jam belum juga menampakkan batang hidungnya. Untuk yang kesekian kalinya, Cella mencoba menghubungi ponsel Dona dan yak! Kali ini rupanya diangkat oleh pemilik telepon.
            “Donaaaaaa.. kamu di mana sih? Aku udah nungguin kamu dua jam, tau! Jadi gak kita ke manding?”
            “Aduh, sorry banget Cell, aku lupa ngabarin kamu. Tadi mendadak ibu minta tolong aku jemput sepupu yang dari Surabaya. Dia mau liburan di sini selama sebulan. Kamu mau nunggu bentar gak? Ini orangnya udah tiba kok. Mau skalian aku ajak jalan bareng juga biar gak bosen. Gimana? Gak apa-apa kan?”
            “Terserah kamu.” Klik! Kesalnya bukan main. Gak ada kabar apa-apa, dihubungin gak bisa, sekarang malah disuruh nunggu lagi. Harus nunggu berapa lama lagi sih? Rutuk Cella dalam hati. Diambilnya novel Paulo Coelho yang tersimpan rapi di dalam tas coklatnya, dibacanya bagian novel yang telah dibatasi oleh pembatas buku sambil menikmati susu cokelat dingin kemasan yang dibelinya sebelum berangkat ke tempat janjian.

            “Cell, aku minta maaf banget ya. Tadi buru-buru jadinya gak sempat ngabarin kamu. Kamu gak marah kan?” kata-kata Dona langsung meluncur lancar dari mulutnya begitu sampai di tempat janjian.
            “Tapi ada syaratnya. Kamu harus nraktir aku beef steak. Gimana? Deal?”
            “Iya, iya. Lagian udah biasa dipalakin kamu. Oh iya, aku sampe lupa ngenalin. Ini si Sam, spupuku dari Surabaya.”
            “Sam.”
            “Cella.”
Cowok itu tersenyum dengan lembutnya sambil menjulurkan tangannya yang kokoh dihiasi dengan jari panjang nan ramping. Tangan itu sepertinya akan sangat kuat untuk menggenggam sesuatu. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis sanggup memikat hati wanita manapun di belahan dunia ini. Gak usah repot-repot nyatain cinta ke cewek. Yang ada malahan cewek yang bakal nyatain cinta sama dia. Wajahnya lumayan tampan. Ralat! Lumayan lumayan lumayan lumayan alias sangat sangat tampan! Kalau boleh dibilang, agak mirip Brad Pit tapi versi Indonesia. Sebentar, sepertinya ada yang janggal.
“Kamu yakin ini sepupumu, Don? Kok beda?” Wajah Dona yang asli Indonesia dengan perpaduan Jawa-Ambon, sedangkan wajah Sam yang indo terlihat sangat berbeda. Memang sama-sama punya hidung mancung, tapi tetap saja beda.
            “Hahaha.. aku tau kamu pasti bakalan nanya kayak gitu. Jadi, ibunya Sam itu orang Belanda. Ketemu sama Oom ku waktu beliau lagi tugas belajar di sana. Begitu.” Cella mengangguk-angguk dengan mulut terbuka berbentuk huruf O, tandanya dia sudah mengerti. Jelas saja beda! Yang satu produk asli dalam negeri, yang satu hasil pencampuran dua bangsa.
            “Ya udah yuk, makan dulu. Aku laper nih gara-gara panik sama buru-buru karena harus jemput cowok satu ini.” Sam hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala yang pastinya gak gatal. Cella mengekor dari belakang. Dua makhluk di depannya ini menjulang tinggi dengan kaki panjang yang juga ramping. Sedangkan dia, sangat mungil tapi untungnya tidak semungil makhluk hobbit dalam film Lord of The Ring.
***
            “Hayooooo.. nglamunin apa kamu?” poni Cella dielus kasar oleh Dewa yang bagaikan hantu datang tiba-tiba dengan suara yang menggelegar. Cella yang saat itu memang tengah melamun sambil memperhatikan orang lalu-lalang di hall kampus, harus mengucapkan beberapa kata secara berulang. Maklum, Cella kalau dikagetin suka latah tapi gak parah banget sampai harus jedotin kepala ke tembok.
            “Dewaaaaa.. kamu apa-apaan sih? Kaget, tau!!” Cella mengeluarkan semua tenaganya untuk meninju bahu kanan yang terasa hanya seperti gigitan semut bagi Dewa. Dewa terlihat puas sekali mengerjai Cella.
            “Hahahaha.. kamu kalo kaget lucu juga ya. Latah! Hahahaha..”
            “Jahat banget sih kamu. Udah tau aku latah, masih aja dikagetin.”
            “Maaf, maaf. Habisnya kamu serius banget sih. Dipanggil-panggil gak nengok. Ya udah aku kagetin aja sekalian. Memangnya kamu lagi nglamunin apa sih sampe serius gitu?” Cella tampak sedikit berpikir. Keningnya berkerut kecil. Dia sedang menimbang-nimbang apakah dia harus bercerita mengenai Sam ke Dewa. Di satu sisi, Cella takut kebablasan kalau cerita soal Sam karena entah kenapa sejak kemarin malam bayangan cowok itu selalu melayang-layang di pikirannya. Tapi, di sisi lain, dia gak mau berbohong sama Dewa. Dewa sahabatnya dan dia harus tau itu.
            “Cell?”
            “Hmmm... tapi kamu jangan tertawa ya kalo aku crita.” Dewa tampak mengerutkan kening dan menaikkan alis sebelah kanannya, menunggu Cella melanjutkan ceritanya.
            “Kemarin aku dikenalin sama sepupunya Dona. Cowok. Namanya Sam. Orangnya tinggi, udah gitu ganteng banget. Hehe…” Cella menggaruk-garuk kepalanya dan mengayunkan kedua kakinya ringan.
            “Hahahaha.. Jadi ceritanya kamu sedang naksir dia? Hahaha.. aku kasih tau Dona ahh biar lebih seru. Hahaha..”
            “Eh, jangan dong, Wa. Lagian kan belum tentu aku suka beneran sama si Sam. Bisa aja kan ini cuma cinta monyet gara-gara liat cowok cakep. Hehehe.” Dalam hati Cella, sebenarnya terdapat sebuah permintaan kecil yang diam-diam disampaikan pada Tuhan. Dia ingin sekali dipertemukan lagi dengan Sam. Melihat wajahnya, membayangkan dada bidangnya sebagai tempat teraman yang dia miliki walau suatu saat tidak mungkin bisa menggapai Sam karena dia tahu. Dia cuma seorang cewek berpostur mungil yang tidak punya kelebihan apa-apa. Kalaupun jodoh, dia yakin Tuhan akan menunjukkan jalannya. Mungkin benar kata orang, cinta pada pandangan pertama sangat sangat membahagiakan hingga rasanya hampir mau mati karena harus menahan ledakan cinta yang begitu dahsyat di dada.
***

            Ting tong! Ting tong!
            Cella yang saat itu hanya memakai daster lusuh karena sedang membereskan kamar, berlari cepat ke arah ruang tamu meninggalkan sapu ijuk yang dilemparkannya begitu saja di pojok kamar. Dibukanya pintu dan sesaat kemudian berdiri mematung. Makhluk yang selama ini berlarian di dalam mimpinya, yang selalu disisipkan dalam doa malamnya, sekarang sedang berdiri sambil tersenyum simpul ke arahnya.
            “S..S..Sam?? Ka..kamu ngapain di sini?” Susah payah Cella mengatur napas agar tidak terlihat konyol di hadapan Sam. Sedetik kemudian dia tersadar kalau sedang memakai daster ibunya, ditambah lagi rambutnya yang diikat sembarangan. Lengkaplah sudah penderitaan Cella di hari ini. Sial apa si Sam harus melihatnya dalam kondisi buruk seperti ini? Tanpa bersuara Cella langsung melesat cepat ke arah kamar dan mengganti bajunya dengan yang lebih sedap dipandang.
            “Kamu ngapain di sini Sam? Kok bisa tau rumahku?” Cella mengulang lagi pertanyaannya. Tetap gak percaya kalau cowok tampan bagaikan malaikat itu sedang duduk manis di hadapannya.
            “Aku tau alamatmu dari Dona.”
            “Oh iya ya, aku lupa.” Cella nyengir salah tingkah.
            “Jalan, yuk!”
            “Ha? Maksudnya?”
            “Maksudnya aku ngajakin kamu jalan. Mau gak?” What? Mimpi apa dia semalam pagi-pagi gini si Sam ke rumah ngajakin jalan. Tanpa berpikir panjang Cella mengangguk dengan cepat dan Sam tertawa melihat tingkah spontan yang dilakukan Cella. Duh, bego! Kenapa aku keliatan antusias gini sih? Batin Cella menjerit panik.
            “Aku siap-siap dulu ya kalo gitu.”
            “Gak usah dandan aneh-aneh ya. Kamu lebih cantik kalau natural.” Wajah Cella kemudian terasa panas yang tingkatannya sanggup menghanguskan telur. Cepat-cepat dia pergi ke kamar mandi sambil merasakan debaran jantuknya yang berdetak hebat.

            Sudah hampir sebulan Sam menghabiskan liburannya di Yogyakarta dan selama itu pula, kedekatannya dengan Cella seperti sudah tak ada jarak. Setiap malam, Sam selalu menghubungi Cella untuk sekedar menanyakan kabar, apa yang dia lakukan hari ini, apakah sudah makan atau belum. Sejam, dua jam berbincang dengan orang yang disukai bukan masalah bagi Cella. Selama dia bahagia, apapun akan dilakukannya termasuk tetap meladeni obrolan Sam walaupun mata tidak kuat lagi menahan kantuk.
            “Cell, kamu udah punya pacar belum?” tanya Sam di suatu siang di restoran. Ketika itu Sam mengajak Cella untuk menemaninya memilih batik sebagai oleh-oleh yang ingin dibawa pulang ke Surabaya.
            “Belum. Kenapa, Sam?”
            “Ehmmm… kamu mau gak jadi pacarku?” Kata-kata Sam barusan seperti sebuah magnet yang menarik Cella agar lebih dan lebih dalam lagi berada di pusaran yang namanya cinta dan kebahagiaan. Dia berharap ini bukan mimpi, bukan guyonan belaka layaknya Dewa yang selalu mengerjainya.
            “Kamu gak lagi becanda kan? Kita kan belum lama kenal.”
            “Aku gak becanda kok. Aku beneran suka sama kamu dan aku pengen kamu jadi pacarku.” Raut muka Sam terlihat serius. Cella mencoba mencari kebenaran di mimik wajahnya, di kedua matanya namun tidak mendapatkan apa-apa. Yang dia lihat hanyalah sebuah kejujuran dan ketulusan di sana. Merasa yakin dan mantap, Cella menganggukkan kepalanya. Hari ini, akan dicatatnya dalam diary-nya sebagai hari di mana dia diijinkan Tuhan untuk mengecap kebahagiaan bersama orang yang dikasihinya.
***
            Sudah lebih dari enam bulan Cella merajut kasih bersama Sam dan masih tetap tidak bisa mengontrol debaran jantungnya, wajahnya yang memerah ketika dipanggil dengan sebutan sayang. Ini kali pertama Cella berhubungan dengan lawan jenis setelah sekian lama menjomblo. Bukan karena gak laku, tapi entah kenapa setiap kali cowok yang ngedeketin Cella tiba-tiba saja pergi tanpa kata, tanpa pamit meninggalkannya termangu sendirian tanpa tahu apa penyebabnya.
            Dia berharap, semoga Sam adalah cowok yang benar-benar diutus Tuhan untuk menghilangkan kegalauan di hatinya. Doa polos dan sederhana yang selalu memohon agar Sam selalu nyaman berada di sisinya.
            “Kamu nyaman ya LDR gitu sama si Sam?” tanya Dona. Siang itu, mereka bertiga, Dona, Dewa dan Cella duduk di pojok kantin sambil mengunyah bakso pak Maman yang terkenal sangat enak di seantero kampus. Harganya yang cukup terjangkau membuat warungnya selalu laris manis didatangi para mahasiswa yang kelaparan.
            “Selama kami saling setia dan percaya, kenapa mesti gak nyaman?”
            “Tumben bijak.” celetuk Dewa yang sedang susah payah membelah bola bakso menjadi dua. Cella memutar kedua matanya melihat usaha sia-sia Dewa yang sedari tadi belum berhasil membelah bola bakso menjadi potongan-potongan kecil.
            “Kamu kayak anak kecil deh, Wa gitu aja gak bisa. Sini, kupotongin.” Cella menarik mangkuk bakso dan dengan cekatan memotong bola bakso yang berukuran jumbo menjadi beberapa potongan kecil.
            “Nih. Sekarang kamu bisa makan dengan nyaman.” Cella menyodorkan kembali mangkuk bakso Dewa dan tanpa sengaja, kedua tangannya saling bersentuhan. Dewa merasa ada yang aneh. Jantungnya tiba-tiba tidak mau berkompromi dengan alam pikirnya. Lutut terasa lemas. Apa ini? Apa yang sedang terjadi pada dirinya? Ini bukan kali pertama tangannya bersentuhan dengan Cella. Tapi kenapa sentuhan kali ini terasa berbeda? Dewa menatap Cella lebih lama dan semakin lama, dia merasakan ada yang tidak beres pada dirinya.
            “Wa?” suara cempreng Dona membuyarkan lamunannya. “Wajahmu kok pucat? Kamu sakit ya?”
            “Enggak apa-apa kok. Kepalaku tiba-tiba pusing. Aku ke hall duluan ya, mau merebahkan diri sejenak di sana. Ngutang dulu ya, Don.” Dewa pergi begitu saja meninggalkan Cella dan Dona yang saling bertatapan keheranan melihat tingkah laku Dewa yang tiba-tiba aneh.
***
            “Kamu ngingetin aku sama mantanku dulu.” Ujar Sam tiba-tiba. Cella merasakan aliran darahnya mengalir deras dan jantungnya memompa cukup kuat. Marah! Ya, siapa yang gak marah kalau kekasih kita tiba-tiba membicarakan masa lalu? Masa lalu adalah masa yang seharusnya dikubur dalam-dalam menjadi kenangan bukan untuk dipanggil muncul ke permukaan. Dan juga, bukan sebagai topik pembicaraan dengan kekasih masa kini.
            “Maksudmu?” Cella mencoba menahan amarahnya. Dia menarik napas pelan dan hati-hati agar tidak terdengar oleh Sam di ujung sana.
            “Ya, kamu ngingetin aku sama mantanku. Kebiasaanmu yang suka memasukkan krupuk ke dalam kuah kemudian di makan, sifat malas kalian, sama-sama suka coklat, dan sama-sama tomboy.”
            “Sam, aku gak tau apa maksudmu dengan nyritain masa lalumu ke aku. Tapi jujur saja, aku risih. Dan kalau kamu menelpon aku hanya untuk membicarakan masa lalu, lebih baik aku tidur. Banyak kegiatan yang harus aku lakukan besok.” Cella mengepalkan tangannya. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya agar tidak tampak idiot dan bodoh di hadapan seorang Sam. Cewek mana yang mau disamain dengan masa lalu? Gak ada satupun cewek yang ikhlas dan rela diperlakukan seperti itu. Kalau bisa, sekuat mungkin mereka akan berusaha untuk menjadi yang berbeda. Sam seolah-olah tampak tersenyum kemudian berbicara pelan.
            “Jangan marah dulu, sayang. Aku cerita begini supaya kamu tau bukan dari orang lain, tapi dari aku. Maaf, aku gak bermaksud apa-apa sama sekali. Aku sayang kamu.”
            “Aku juga sayang kamu, Sam.” Ada jeda sekitar 10 detik di antara mereka sebelum akhirnya Cella memberanikan diri untuk memulai kembali percakapan.
            “Sam, aku tidur dulu ya. Udah jam sepuluh. Aku capek. Besok lagi ya teleponnya. Bye.” Klik! Cella membanting pelan dirinya di atas kasur. Berbagai pikiran bermain di benaknya. Kalau memang benar aku mirip sama mantannya, apakah mungkin dia jadian sama aku hanya sebagai pelarian karena persamaanku dengan masa lalunya? Apakah itu benar? Tanpa disadari, bulir air matanya jatuh perlahan membasahi pipi merahnya.
***
            Cella bangun dalam kondisi yang tidak terlalu menyenangkan di pagi ini. Dia masih terbayang dengan pikiran dan kejadian semalam. Dia tidak cemburu tapi kenapa Sam harus menyamakan dia dengan masa lalunya? Kalau toh ada yang kurang dari dirinya, ada yang jelek dari dirinya, yang tidak disukai dari dirinya, Sam bisa bilang apa pun dan dia akan berusaha sebaik mungkin untuk berubah biar hubungan ini tidak selalu terikat dengan masa lalu dan selamanya kalau perlu.
            “Huffttt..” Cella menendang kerikil kecil yang berada di taman sekitar hall kampus. Tidak ada niat sama sekali untuk melakukan apapun. Kepalanya masih pusing memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan.
            “Kamu kenapa, Cell? Di kelas kamu diem aja gak kayak biasanya. Di sini juga kamu cuma duduk, nglamun sambil komat-kamit gak jelas. Lagi ngafalin mantra ya? Hehehe.” Dewa menunjukkan cengiran lebarnya yang aneh banget diliat. Mau gak mau Cella akhirnya tertawa juga melihat polah sahabatnya yang satu ini. Entah kenapa, kehadiran Dewa selalu bisa membuatnya nyaman dan tenteram bilamana dirundung masalah. Ada sajaaa yang bakal dilakuinnya supaya Cella tersenyum kembali. Suatu ketika saat sedang bersedih dan depresi karena impiannya ingin menjadi jurnalis ditentang keras oleh kedua orangtuanya, Dewa datang dengan memakai baju colorful super ketat ke rumahnya. Cella yang waktu itu sedang membersihkan halaman cuma bisa melongo melihat penampilan Dewa. Sedangkan, tetangganya sudah tidak bisa lagi menahan tawa. Ya, Dewa merupakan sahabat yang paling dipercayai oleh Cella. Dia merasa nyaman untuk menumpahkan segala kekesalan, gundah gulana yang dirasakannya. Dewa adalah yang terbaik yang pernah dimilikinya.
            “Aku gak apa-apa kok.” Maaf, Wa. Kali ini aku terpaksa berbohong sama kamu.
            “Sampai kapan kamu mau bilang kamu gak kenapa-kenapa? Aku temenan sama kamu bukan baru kemarin, Cell. Aku tau pasti terjadi sesuatu sama kamu, itupun kalau kamu mau cerita.”
            “Sam bercerita tentang mantannya. Katanya, aku persis seperti dia. Mulai dari cara makan, sifat dan hobi.” Kata Cella tida-tiba. Dia juga heran kenapa dengan lancarnya dia bercerita tentang masalahnya kepada Dewa padahal dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menutupinya.
            “Dan kamu cemburu?”
            “Marah lebih tepatnya. Bukan cemburu. Aku hanya kesal jika disamain seperti itu. Cewek mana sih yang gak bakal marah disamain sama masa lalu oleh cowoknya? Kalau aku cuma buat pelarian seharusnya dia jujur dari awal!” Cella tidak sanggup lagi membendung amarahnya. Kata-kata yang dilontarkan setengah teriak itu, juga dibarengi dengan air mata yang mengalir perlahan. Secara spontan, ibu jari Dewa menghapus air mata tersebut dan lagi-lagi, Dewa merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia tidak tahu perasaan apa yang sedang menyelimutinya tapi satu yang ingin ia lakukan, ia ingin memeluk Cella. Meringankan kesedihannya dan menghapus air matanya. Ia ingin mengecup kening Cella dan berkata semua baik-baik saja. Ada dia di sini yang akan menjaganya dan tidak akan pernah membuatnya bersedih. Gak mungkin aku suka sama Cella. Gak mungkin!!! Dewa menggelengkan kepalanya sekuat mungkin, membuat Cella terheran-heran.
            “Kamu pusing, Wa?” Cella menempelkan punggung tangannya di kening Dewa. Cukup, Cell. Jangan perhatian begitu. Aku bisa mati menahan perasaanku yang bertepuk sebelah tangan. Batin Dewa berteriak.
            “Aku gak apa-apa.”
***
            Sore itu, di bulan November yang hangat, Sam menepati janjinya untuk kembali ke Yogyakarta sekedar menemui kekasih hatinya yang sudah sangat lama tidak dilihatnya. Diajaknya Cella ke sebuah tempat makan yang menyajikan menu steak beraneka pilihan. Cella memilih beef steak, sedangkan Sam memilih chicken steak.
            “Mantanku dulu juga suka beef steak.” Sam berkata tiba-tiba sambil memotong steak tersebut menjadi beberapa bagian. Cella menatapnya dengan tatapan tajam dan tangan kirinya yang memegang garpu, terhenti di udara. Beberapa menit kemudian, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, Cella kembali memakan steaknya dengan kadar selera yang mulai berkurang.
            “Dia tuh gak pernah ngrasa kenyang. Kalo beef steaknya udah abis, dia pasti bakal mesen French fries.” Mata Sam tampak berbinar-binar membicarakan masa lalunya. Tenggorokan Cella tercekat. Susah sekali untuk menelan. Cella seperti tidak sedang mendengarkan Sam. Dia terus memakan steak yang ada di hadapannya.
            “Aku masih ingat. Dulu sepulang sekuliah, dia bilang pengen makan bakso. Aku ikutin permintaannya. Katanya udah kenyang, tapi lima menit kemudian udah jajan mi ayam. Hahaha.. lucu banget waktu itu.”
            “Kok diam?” Sam akhirnya tersadar kalau percakapan yang terjadi adalah percakapan satu arah.
            “Udah ceritanya? Kalo udah, aku mau pulang.” Cella meletakkan garpu dan pisau makan, dan kemudian mengelap pelan bibirnya.
            “Kamu kenapa sih? Salah kalau aku certain mantan?” Rahang Sam mengeras.
            “Salah! Kamu udah sama aku. Kamu udah milih aku jadi masa depanmu. Dan gak seharusnya kamu terbayang sama masa lalu. Kalo kamu belum bisa nglupain mantan kamu, selesaikan dulu masalahmu. Jangan jadikan aku pelarianmu. Aku juga punya perasaan. Kamu pikir aku fine –fine aja denger cerita kamu? Enggak! Tiap kali nelpon, yang kamu omongin tentang mantanmu terus. Aku kurang apa sih, Sam? Aku kurang cantik? Aku kurang pintar? Aku kurang modis? Jawab!!!” Akhirnya Cella menumpahkan semua kekesalan dan kemarahan yang selama ini disimpan dalam hati. Dia sudah tidak peduli dengan pandangan setiap orang di tempat itu.
            “Kenapa gak jawab? Bener kan kata-kataku?”
            “Cell, denger dulu penjelasanku. Aku gak ada maksud apa-apa.”
            “Kamu gak ada maksud apa-apa tapi tiap hari ngomongin mantan artinya apa?” Cella tidak tahu lagi harus bagaimana. Rasanya dia sedang tenggelam lebih dalam lagi ke samudra yang luas hingga susah untuk bernapas. Inikah rasanya jika kekasihmu masih mengingat yang dulu? Beginikah rasanya?
            “Maaf, Sam. Tapi aku udah gak kuat lagi jalan sama kamu. Kita putus.” Belum juga Cella membalikkan badannya, sebuah tangan kokoh memukul wajah Sam. Sam limbung dan tak berdaya. Nyaris tidak bisa berdiri. Pandangan Cella yang tadinya tampak kabur karena air mata, kini terlihat jelas.
            “Dewaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!!”
***
31 Desember 2013…
Sudah hampir sebulan semenjak peristiwa itu namun Cella masih duduk termenung di dalam kamarnya. Perasaan cintanya yang begitu hebat terhadap Sam mampu melumpuhkan setiap sendi tubuhnya, setiap niatnya dan setiap mimpinya. Dia masih sangat mencintai Sam tapi tak sanggup untuk berjalan bersama seseorang yang masih terikat dengan cinta masa lalu. Cinta memang tidak harus memiliki. Kalau Sam memang lebih bahagia bersama cinta dan kenangan masa lalunya, biarkanlah. Dia juga berhak mengejar kebahagiaannya sendiri dengan orang yang lebih baik dari Sam.
Tok!
Cella menoleh ke arah jendela dengan rasa panik yang cukup hebat. Diambilnya baygon sebagai senjata pertahanannya kalau-kalau orang jahat itu memang sedang mengincar rumahnya, atau lebih buruk, dirinya. Pelan-pelan dia membuka kain gordin, mengintip di celah kecil jendela.
“Dewa?” Dewa sedang berdiri di luar pagar rumah Cella sambil membawa beberapa kertas bertuliskan sesuatu. Cella mengisyaratkan agar Dewa tetap berdiri disitu sambil menunggunya membukakan pintu.
“Dewa? Kamu ngapain jam segini di depan rumah orang? Gak takut dihajar warga?” Dewa tersenyum dan menggelengkan kepala dalam diam.
“Kamu kenapa sih, Wa? Aneh banget deh. Itu kertas-kertas apa?” tanya Cella, menunjuk kertas-kertas yang dibawa Dewa. Seketika itu juga Dewa mengangkat kertas-kertas itu satu per satu.
Diangkatnya kertas pertama yang bertuliskan: Hei kamu yang di sana. Yang bertubuh mungil dan berpipi merah. Apa kabar?. Kertas kedua bertuliskan: Aku merindukanmu karena sebulan kamu terus-menerus mengurung diri di kamar. Lalu, kertas ketiga bertuliskan Aku di sini sekarang. Jangan nangis lagi ya. Dan terakhir, kertas keempat yang bertuliskan Aku sayang kamu, dulu, sekarang dan selamanya.
Air mata Cella jatuh perlahan membahasi pipinya. Dia tidak menyangka bahwa ada seseorang yang begitu tulus menyayanginya dalam diam, tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah memaksa dan tanpa pernah berharap. Seseorang yang selama ini dianggapnya hanya sebagai sahabat, tempat berbagi keluh dan kesah. Cella begitu buta dengan pesona Sam selama ini sehingga dia tidak menyadari ada sinar yang lebih terang, yang selama ini menaunginya, menguatkannya dan melindunginya.
Duarrr.. Duarrr… Duarrr…
Kembang api menandai pergantian tahun. Melukis langit dengan warna-warnanya yang ceria, memberikan semangat, memberikan harapan bahwa semoga di tahun yang baru semua makhluk di bumi bisa lebih baik lagi. Begitu pula hati Cella yang semula hitam, gelap dan kosong, diwarnai begitu indah dengan cinta dari Dewa. Dia bersyukur, bahwa Tuhan masih sangat menyayanginya dengan tidak meninggalkannya sendirian.
Ciuman lembut namun singkat itu mendarat cepat di bibir merah Cella, di bawah pendar-pendar cahaya kembang api. Tubuh Cella mendadak kaku, bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Dewa mengelus pipinya dengan lembut.
“Kamu gak harus mencintai aku sekarang. Aku akan menunggu sampai kapanpun, seribu tahun kalau perlu, sampai kamu bisa mencintaiku dengan tulus, tanpa paksaan dan bukan karena pelarian.” Dewa mengecup kening Cella perlahan. Cella merasakan kesejukan yang begitu damai di dalam hatinya. Dia tersenyum lalu menggandeng tangan Dewa menikmati kilauan kembang api pergantian tahun.

The End